Radar Surabaya - Dalam kehidupan modern yang serba cepat dan menuntut ketangguhan emosional, banyak orang seolah didorong untuk segera “move on” setelah kehilangan. Duka kerap diposisikan sebagai fase yang harus cepat dilewati, seakan kesedihan memiliki batas waktu. Padahal, bagi sebagian besar individu, rasa kehilangan tidak pernah benar-benar hilang.
Di tengah tekanan tersebut, muncul sebuah pendekatan psikologis yang menawarkan cara pandang berbeda dalam memahami duka, yakni konsep growing around the grief. Alih-alih menuntut pemulihan instan, konsep ini mengajak manusia untuk hidup berdampingan dengan kehilangan.
Pendekatan tersebut diperkenalkan oleh Dr. Lois Tonkin, seorang konselor dan pakar duka asal Australia. Gagasannya dikenal luas melalui buku Living with Grief yang terbit pada 1996 dan menjadi salah satu rujukan penting dalam psikologi duka modern.
Tonkin menantang pandangan lama yang memaknai duka sebagai proses linear yang harus dituntaskan. Dalam salah satu pemikirannya yang banyak dikutip, ia menyatakan, “We don’t get over grief. We grow around it.” Artinya, manusia tidak benar-benar melampaui duka, melainkan bertumbuh di sekelilingnya.
Menurut Tonkin, duka tidak mengecil seiring berjalannya waktu. Yang berubah justru kehidupan manusia itu sendiri. Pengalaman baru, relasi, dan makna hidup membuat ruang batin semakin luas, sehingga kesedihan yang tetap ada tidak lagi mendominasi seluruh kehidupan.
Cara pandang ini membebaskan individu dari tekanan sosial untuk selalu terlihat “baik-baik saja”. Ketika rasa kehilangan muncul kembali, hal itu tidak dipahami sebagai kemunduran atau kegagalan proses penyembuhan. Duka justru dipandang sebagai jejak dari cinta dan keterikatan yang pernah hadir secara mendalam.
Dalam praktik keseharian, growing around the grief tercermin melalui hal-hal sederhana. Seseorang masih bisa merindukan sosok yang telah tiada, namun tetap menjalani rutinitas tanpa rasa bersalah. Ia dapat bekerja, tertawa, dan membangun relasi baru, sambil menyimpan kenangan sebagai bagian dari identitas dirinya.
Kesedihan tidak dihapus, melainkan ditempatkan secara proporsional. Tujuan pemulihan bukan menghilangkan kehilangan, tetapi membangun kehidupan yang cukup luas untuk menampungnya.
Pada akhirnya, konsep ini mengajarkan empati baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain yang sedang berduka. Menjadi utuh bukan berarti tanpa luka, melainkan mampu terus bertumbuh di sekeliling luka tersebut, tanpa kehilangan makna hidup.
Editor : M Firman Syah