Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Cenderung Berpura-pura Bahagia, Begini Ciri-ciri Orang yang Menutup Rapat Kesedihannya

Muhammad Firman Syah • Jumat, 23 Januari 2026 | 15:37 WIB

Ilustrasi animasi dari seseorang yang menutup kesedihan.
Ilustrasi animasi dari seseorang yang menutup kesedihan.

Surabaya – Di tengah budaya yang menuntut setiap orang selalu tampak kuat, bahagia, dan produktif, tidak sedikit individu yang memilih menyembunyikan kesedihannya. Senyum, kesibukan, hingga capaian personal kerap dijadikan tameng untuk menutup beban emosional yang tidak pernah benar-benar terucap.

Psikiater asal Inggris, Dr Tim Cantopher, menyebut kondisi ini sebagai fenomena yang sering luput dari perhatian. “Depression is not a sign of weakness. It is a sign that you have been trying to be strong for too long,” ujarnya. Depresi, menurut dia, bukan tanda kelemahan, melainkan sinyal bahwa seseorang telah terlalu lama memaksa diri untuk terlihat kuat.

Baca Juga: Rekomendasi Hobi untuk Mengatasi Depresi, Dari Fotografi hingga Memasak

Salah satu ciri yang umum ditemui adalah kecenderungan terlalu sibuk dan overproduktif. Aktivitas padat menjadi pelarian agar individu tidak perlu berhadapan langsung dengan rasa hampa atau tekanan batin. Pada saat yang sama, muncul pula penarikan diri secara emosional. Mereka tetap hadir secara fisik, namun menjaga jarak dari percakapan mendalam maupun hubungan yang bermakna.

Perubahan suasana hati yang tidak stabil juga kerap menyertai kondisi ini. Seseorang bisa tampak ceria pada satu waktu, lalu mudah tersinggung atau murung tanpa sebab yang jelas. Kondisi tersebut sering berdampak pada pola hidup, termasuk gangguan tidur, seperti sulit terlelap, sering terbangun di malam hari, atau justru tidur berlebihan akibat kelelahan mental.

Baca Juga: Depresi Bukan Hanya Mental, Ini 7 Gejala Fisik yang Kerap Terabaikan

Tanda lain terlihat dari hilangnya minat terhadap hobi atau aktivitas yang sebelumnya memberi rasa senang. Hal-hal yang dulu menyenangkan perlahan terasa hambar. Di balik citra percaya diri dan keberhasilan yang tampak dari luar, individu ini kerap diliputi kritik diri berlebihan dan perasaan tidak pernah cukup baik.

Tekanan emosional yang terus dipendam juga tidak jarang muncul dalam bentuk keluhan fisik berulang, seperti sakit kepala, nyeri otot, atau rasa tidak nyaman tanpa penyebab medis yang jelas. Selain itu, muncul kebutuhan tinggi akan validasi dari lingkungan sekitar sebagai upaya menutup rasa tidak aman dan kekosongan batin.

Baca Juga: Fenomena Depresi Viral di Sosial Media, Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak selalu bisa diukur dari apa yang terlihat di permukaan. Kepekaan, empati, dan kesediaan untuk mendengarkan menjadi kunci agar mereka yang tampak baik-baik saja tidak harus memikul beban emosionalnya seorang diri. (sry/fir)

 
Editor : M Firman Syah
#suasana hati #Emosional #kesedihan #depresi