Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Mengenal Batik Gentongan Madura, Warisan Budaya dengan Warna Khas Pesisir

Muhammad Firman Syah • Kamis, 22 Januari 2026 | 19:18 WIB

Batik Gentongan Madura.
Batik Gentongan Madura.

Surabaya – Batik Indonesia telah diakui dunia sebagai warisan budaya, dengan 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik Nasional. Dari beragam batik nusantara, Batik Gentongan asal Madura, Jawa Timur, menjadi salah satu yang menonjol karena keunikan proses dan karakter warnanya.

Batik Gentongan berasal dari Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan. Batik ini dikenal memiliki motif khas dengan warna-warna cerah yang kuat serta teknik pewarnaan berbeda dibandingkan batik pada umumnya.

Sejarah Batik Gentongan tak lepas dari kehidupan masyarakat pesisir Madura. Pada masa lalu, ketika para suami melaut selama berbulan-bulan, para istri mengisi waktu dengan membatik sambil menanti kepulangan mereka. Saat itu, membatik bukanlah mata pencaharian utama, melainkan wujud pengabdian.

Baca Juga: Bangkit di Masa Pandemi, Batik Canting Asasi Binaan BRI Kini Mendunia

Kain batik yang dihasilkan diberikan kepada suami sebagai pangestoh atau berkah. Batik Gentongan menjadi simbol ketulusan, doa, dan harapan akan keselamatan sang suami selama melaut.

Keunikan Batik Gentongan juga terletak pada proses pewarnaannya yang menggunakan gentong. Media ini dipercaya mampu menghasilkan warna lebih cerah dan tahan lama karena kain tidak boleh terkena sinar matahari langsung selama proses perendaman.

Mengacu pada jurnal Perancangan Buku Esai Fotografi Tentang Batik Gentongan Madura, proses pembuatan batik ini melalui tahapan yang panjang. Diawali dengan menyiapkan kain putih polos, canting, malam, kompor kecil, serta pewarna alami.

Bahan pewarna berasal dari alam, seperti kunyit dan mengkudu untuk menghasilkan warna kuning, air pohon pisang untuk warna cokelat, serta buah-buahan pegunungan untuk warna merah. Motif kemudian digambar di atas kain menggunakan canting dan malam.

Baca Juga: BRI Konsisten Dorong UMKM Naik Kelas, Batik Malessa Tembus Pasar Premium

Tahapan berikutnya adalah tebbeng dan essean, yakni menutup bagian tertentu kain dengan malam agar tidak terkena warna saat proses pewarnaan. Kain lalu direndam ke dalam gentong secara bertahap sesuai jumlah warna yang diinginkan.

Setelah pewarnaan, kain direbus dalam air mendidih untuk melunturkan malam, lalu dijemur dan diangin-anginkan hingga kering. Proses pewarnaan dan pelunturan malam ini dilakukan berulang kali dan dapat memakan waktu berbulan-bulan demi menghasilkan kualitas terbaik.

Dikutip dari jurnal Batik Madura, Menilik Ciri Khas dan Makna Filosofinya, Batik Gentongan termasuk dalam kategori batik pesisiran dengan corak beragam dan warna berani. Warna merah melambangkan karakter masyarakat Madura yang kuat dan tegas.

Warna hijau merepresentasikan nilai religius yang lekat dengan sejarah berkembangnya kerajaan Islam di Madura. Sementara kuning melambangkan kemakmuran dan bulir padi, serta biru menggambarkan laut yang mengelilingi Pulau Madura.

Baca Juga: BRI Dukung Pengembangan Batik Siger sebagai Ikon Budaya Lampung

Motif Batik Gentongan banyak terinspirasi dari kehidupan nelayan dan hewan laut, mencerminkan mata pencaharian masyarakat Bangkalan. Salah satu motif populer adalah Tong Centong, yang berarti alat penyendok nasi.

Motif Tong Centong mulai dikenal pada era 1950-an dan kerap digunakan dalam batik pernikahan sebagai simbol jaminan kehidupan rumah tangga. Selain itu, terdapat motif Carcena yang dipengaruhi budaya Tionghoa, serta ratusan motif lain seperti Sik Melaya, Kembang Randu, Ola-ola, Burung Hong, dan Panji Susi.

Hingga kini, Batik Gentongan Madura tetap menjadi simbol kekayaan budaya lokal bernilai tinggi yang terus lestari di tengah perkembangan zaman. (ida/fir)

Editor : M Firman Syah
#Batik #warisan budaya #Batik Gentongan Madura