RADAR SURABAYA - Dua mahasiswa difabel asal Kabupaten Gresik, Aisyah Grisseeta Azzahra dan Eidelweis Syahida Ayazhi, membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berkarya.
Dengan kreativitas dan ketekunan, kedua gadi tuna rungu ini mampu menyulap barang bekas yang sering dianggap sampah menjadi karya seni bernilai ekonomi tinggi.
Aisyah merupakan mahasiswa Teknik Informatika di Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG), sedangkan Ayazhi menempuh pendidikan Seni Rupa di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Kolaborasi keduanya menghasilkan karya unik berupa pot tanaman dan hiasan rumah dari gelas serta botol plastik bekas.
Dengan memanfaatkan latar belakang seni rupa Ayazhi dan ketertarikan Aisyah pada teknologi, mereka telaten mengolah limbah plastik menjadi produk estetik dengan motif lucu yang memanjakan mata.
Melalui bahasa isyarat, keduanya menegaskan bahwa tujuan utama karya mereka bukan sekadar keuntungan finansial, melainkan pesan pelestarian lingkungan.
“Karya ini tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi pesan utamanya adalah pentingnya daur ulang untuk bumi kita,” ungkap Aisyah dan Ayazhi serempak, Minggu (11/1).
Ke depan, mereka berencana memperluas pemasaran melalui platform online dan membuka lapak di kegiatan Car Free Day (CFD) Gresik.
Dukungan Keluarga
Keberhasilan duo kreatif ini tak lepas dari dorongan orang tua. Andayani, ibunda Ayazhi yang sehari-hari bekerja sebagai penjaga kantin sekolah, mengaku bangga melihat putrinya produktif.
“Awalnya saat liburan, saya lihat Ayazhi hanya membantu jualan dan main HP. Saya beri masukan agar dia punya aktivitas yang lebih bermanfaat. Ternyata hasilnya luar biasa, mereka sangat bersemangat mengolah barang bekas ini,” tuturnya.
Semangat Aisyah dan Ayazhi menjadi inspirasi bagi penyandang disabilitas lainnya di Gresik. (jar/nur)
Editor : Nurista Purnamasari