RADAR SURABAYA - Dunia bedah plastik Amerika Serikat (AS) tengah dihebohkan dengan tren prosedur kecantikan terbaru yang menggunakan bahan tak biasa, yakni lemak donor dari jenazah.
Prosedur ini diminati pasien yang ingin melakukan Brazilian Butt Lift (BBL) atau pembesaran payudara, namun tidak memiliki cukup cadangan lemak di tubuhnya sendiri.
Produk bernama AlloClae mulai populer di New York sejak awal 2025. Berbeda dengan filler wajah seperti Botox, AlloClae merupakan pengisi jaringan manusia yang berasal dari lemak donor jenazah yang telah melalui proses skrining medis ketat.
Biasanya, prosedur BBL mengharuskan dokter mengambil lemak dari tubuh pasien sendiri melalui sedot lemak (liposuction) untuk kemudian disuntikkan kembali ke bokong.
Namun, bagi pasien yang sangat kurus atau sudah pernah menjalani liposuction sebelumnya, prosedur ini sulit dilakukan.
Menanggapi tren baru ini, Dr. Melissa Doft, ahli bedah plastik di Manhattan, menjelaskan bahwa prosedur ini menggunakan lemak ‘siap pakai’.
“Ini adalah ‘lemak siap pakai’ (off-the-shelf fat). Sangat membantu bagi pasien yang tubuhnya terlalu tipis atau mereka yang sudah pernah melakukan sedot lemak sehingga tidak punya cadangan lemak lagi,” jelasnya.
Pakar medis memastikan bahwa lemak donor ini telah melalui proses pembersihan, sterilisasi, dan pemurnian berlapis.
Proses tersebut menghilangkan sisa sel dan DNA donor untuk mencegah respons imun negatif atau penolakan dari tubuh pasien.
Keunggulan lain dari prosedur ini adalah sifatnya yang minimal invasif. Pasien tidak perlu menjalani pembiusan total, cukup dengan suntikan di klinik dan bisa langsung kembali beraktivitas, mirip dengan penyuntikan filler wajah.
Ahli kecantikan Dr. Sachin M. Shridharani menambahkan bahwa permintaan prosedur ini meningkat tajam, terutama dari pasien yang kehilangan volume tubuh secara drastis akibat penggunaan obat penurun berat badan populer seperti Ozempic atau Mounjaro.
“Kita bisa menggunakan AlloClae untuk mengembalikan lekuk pinggul, bokong, dan kontur payudara yang kendur akibat penurunan berat badan yang cepat,” jelasnya.
Meski praktis, prosedur ini tidak murah. Biaya standar dimulai dari USD 10 ribu (sekitar Rp 150 juta).
Jika pasien membutuhkan volume besar untuk payudara dan bokong sekaligus, biayanya bisa membengkak hingga puluhan ribu dolar AS.
Walaupun dianggap aman dan biokompatibel karena mudah menyatu dengan jaringan tubuh, para dokter tetap memperingatkan risiko efek samping.
Risiko tersebut meliputi memar, pembengkakan, infeksi, hingga ketidaksimetrisan jika prosedur tidak dilakukan oleh tenaga ahli berpengalaman dalam bedah lemak.
“Prosedur ini bisa menjadi alternatif aman, tetapi harus dilakukan dengan pengawasan ketat oleh dokter berpengalaman,” tegas Dr. Melissa Doft. (dtk/nur)
Editor : Nurista Purnamasari