RADAR SURABAYA - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan tingginya temuan kasus gangguan mental pada anak-anak di Indonesia.
Ia menegaskan bahwa anak-anak lima kali lebih rentan mengalami kecemasan (anxiety) dan depresi dibandingkan orang dewasa, terutama akibat paparan gawai yang semakin intens.
Budi menyoroti perubahan pola interaksi sosial sejak dini yang membuat anak lebih rentan terhadap masalah kejiwaan.
Merujuk hasil cek kesehatan gratis (CKG) yang kini mencakup skrining kesehatan jiwa, Budi menyebut gangguan mental pada orang dewasa ditemukan hanya sekitar 0,8–0,9 persen, atau di bawah 1 persen. Namun pada anak di bawah 18 tahun, angkanya mencapai 5 persen.
“Berdasarkan hasil skrining di CKG, dewasa yang ditemukan gangguan mental hanya 0,8 hingga 0,9 persen, tetapi anak-anak itu 5 persen,” jelas Budi.
Menurut Budi, penggunaan gawai berlebihan membuat anak-anak terpapar konten dan interaksi digital yang tidak selalu sehat bagi perkembangan psikologis mereka.
“Banyak anak mengalami gangguan kejiwaan, terutama dengan adanya teknologi baru seperti gawai yang mereka pakai terus-menerus,” katanya.
Mayoritas kasus gangguan jiwa yang ditemukan berupa kecemasan (anxiety) dan depresi.
Kemenkes juga mencatat tingginya aduan masyarakat terkait masalah mental melalui layanan darurat 119.
“Kita sudah menerima hampir 100 ribu aduan, sebagian besar terkait kecemasan atau anxiety,” ungkap Budi.
Temuan Kemenkes menunjukkan anak-anak jauh lebih rentan mengalami gangguan mental dibanding orang dewasa, dengan prevalensi mencapai 5 persen. Paparan gawai berlebihan dan perubahan pola interaksi sosial sejak dini menjadi faktor utama.
“Kondisi ini harus menjadi perhatian bersama agar anak-anak tidak kehilangan masa tumbuh kembangnya akibat gangguan mental,” pungkas Budi. (net/nur)
Editor : Nurista Purnamasari