Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Gawat! Remaja Perempuan di Indonesia Rentan Tekanan Sosial

Nurista Purnamasari • Kamis, 27 November 2025 | 13:31 WIB
Media sosial hingga pergaulan sangat mempengaryhi kesehatan mental dan fisik remaja.
Media sosial hingga pergaulan sangat mempengaryhi kesehatan mental dan fisik remaja.

RADAR SURABAYA - Remaja perempuan Indonesia menghadapi kerentanan berlapis di tengah gempuran media sosial dan perubahan sosial yang cepat.

Tekanan standar kecantikan, pola makan tidak sehat, hingga paparan informasi digital tanpa pendampingan membuat mereka rentan terhadap risiko kesehatan reproduksi dan kekerasan berbasis online.

Amurwani Dwi Lestariningsih, pejabat Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), mengatakan bahwa berbagai tekanan tersebut saling terkait dan dapat bermuara pada masalah serius bagi remaja putri.

Amurwani menyoroti peran besar industri kecantikan dalam membentuk perilaku remaja putri. “Konsep cantik itu diproduksi sedemikian rupa sehingga remaja putri inginnya langsing, putih, rambut lurus,” ujarnya dalam konferensi pers Program SPRIN (Selamatkan PeRempuan INdonesia) di Jakarta Pusat, Rabu (26/11).

Tekanan untuk tampil sempurna membuat banyak remaja sengaja membatasi makan dan memilih makanan rendah gizi.

Akibatnya, kasus anemia meningkat dan berpotensi membahayakan kesehatan reproduksi di masa depan.

Di sisi lain, makanan cepat saji yang dikemas menarik semakin meminggirkan pilihan makanan sehat.
Fenomena menstruasi dini pada anak usia SD juga belum diimbangi dengan edukasi memadai.

“Membekali remaja perempuan dengan pemahaman tentang tubuh, batasan, dan kesehatan reproduksi adalah langkah krusial dalam mencegah kekerasan. Ini yang kemudian menjadikan kami mencari jalan, apa yang harus dilakukan untuk memprotek anak-anak,” kata Amurwani.

Minimnya informasi membuat remaja mencari jawaban melalui internet, yang sering kali berisiko menyesatkan.

“Arus informasi tanpa batas membuat mereka mudah melakukan tindakan yang tidak seharusnya, terutama bila tidak memahami batasan antara edukasi dan eksploitasi,” jelas Amurwani.

Ia menambahkan, tekanan sosial dan rasa ingin tahu yang tidak tersalurkan dalam ruang diskusi aman membuat remaja perempuan lebih rentan terhadap manipulasi digital dan kekerasan berbasis online.

“Beberapa kekerasan seksual yang terjadi dialami oleh anak-anak kita, tidak hanya perempuan tetapi juga laki-laki,” ungkapnya.

KPPPA menegaskan bahwa pendidikan reproduksi komprehensif, lingkungan sekolah yang aman, serta dukungan keluarga menjadi kunci agar remaja perempuan dapat tumbuh kuat menghadapi tekanan sosial maupun ancaman kekerasan.

Dengan langkah preventif ini, diharapkan generasi muda Indonesia mampu melindungi diri sekaligus membangun masa depan yang lebih sehat dan berdaya. (dtk/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#media sosial #Edukasi #kpppa #Risiko Digital #kesehatan mental #kesehatan #remaja #pola makan #pendidikan reproduksi remaja