RADAR SURABAYA - Danyang Wingit Jumat Kliwon, film bergenre horor yang mengangkat kisah wayang kulit dari kulit manusia, tayang perdana di Surabaya.
Film ini diharapkan dapat mengingatkan kembali masyarakat, terutama generasi muda, akan pentingnya melestarikan budaya terutama wayang.
Antusiasme penonton film horor di Surabaya sangat luar biasa ditambah dengan kehadiran pemain dan sutradara menyapa langsung penonton dalam roadshow film Danyang Wingit Jumat Kliwon di XXI Tunjungan Plaza, Surabaya, Sabtu (22/11) malam.
Danyang Wingit Jumat Kliwon mengisahkan tentang Ki Mangun Suroto (Whani Darmawan), seorang dalang karismatik yang terobsesi dengan ilmu kuno demi meraih kekayaan dan keabadian.
Alur cerita semakin menarik ketika Citra yang diperankan oleh Celine Evangelista, keponakan Mbok Ning (Djenar Maesa Ayu), direkrut sebagai sinden baru di padepokan Ki Mangun pada tahun 2021. Tanpa disadari, Citra ternyata dijadikan tumbal terakhir dalam ritual keabadian sang dalang.
Di tengah teror gaib yang menghantui, Citra berusaha bertahan demi upah untuk pengobatan adiknya, Dewi (Aisyah Kanza).
Kecurigaan Bara (Fajar Nugra), salah satu penjaga padepokan, semakin menguat, dan ia bertekad untuk menyelamatkan Citra.
Aktris Celine Evangelista mengaku bahwa dirinya belum sempurna dalam menyinden, namun ia berusaha memberikan yang terbaik sebagai kado untuk film Danyang Wingit Jumat Kliwon.
"Untuk proses pembelajaran bahasa, betul-betul kental dengan budaya Jawa. Ada mantra yang tidak bisa sembarangan diucapkan dan dilantunkan. Bahkan, ketika proses syuting ada yang menjaga, dan ketika proses dubbing juga ada yang menjaga. Salah sedikit saja harus ulang lagi ritualnya dari awal. Betul-betul sangat teliti sekali, makanya proses film ini memakan waktu lama karena kami ingin menampilkan yang terbaik dan gak sembarangan," ungkap Celine.
Celine menambahkan bahwa tantangan terbesar dalam film ini adalah menyinden. Dari semua yang pernah dilakukan, mulai dari model, menyanyi, main film, bahkan jadi komedian, menjadi sinden adalah yang paling sulit.
"Ternyata sinden yang profesional itu sudah dididik dari kecil, yang sudah disiapkan jadi profesional dengan latihan dan ritual khusus. Jadi kalau saya hanya berlatih 5-6 bulan ya nggak semaksimal sinden aslinya, tapi saya berusaha yang terbaik buat penonton dan pencinta wayang kulit. Karena jadi sinden itu sulit," jelasnya.
Celine juga menegaskan bahwa tidak semua budaya itu mistis, dan budaya harus dilestarikan.
Menurutnya, mistis dalam film ini berasal dari cerita rakyat dan riset yang dilakukan oleh tim production house (PH) membuktikan bahwa wayang kulit dari manusia itu memang benar adanya dan masih dijaga hingga sekarang.
"Jadi kita mengangkat cerita masyarakat agar mudah diterima anak muda Indonesia. Saya berharap bahwa Indonesia yang kaya raya dengan adat budaya di setiap daerah, dan itu menjadi legenda. Jangan sampai punah dan hilang di anak-anak jaman sekarang. Film ini tetap dibikin wayang kulit dengan cerita masyarakat agar lebih menarik lagi anak muda sekarang untuk menonton," harapnya.
Sementara itu, sutradara film Dayang Wingit Jumat Kliwon, Agus Riyanto mengungkapkan bahwa produksi film ini melibatkan riset selama satu tahun di desa Kedakan, yang berada di lereng Gunung Merbabu, tentang wayang kulit yang terbuat dari kulit manusia.
"Jadi cukup panjang (riset, Red). Dan untuk pemilihan karakter pemain 6 bulan, untuk syuting satu bulan karena ada beberapa lokasi. Memang kita tempatnya lumayan jauh," kata Agus.
Agus juga mengakui bahwa tingkat kesulitan dalam film ini adalah ketika Celine harus belajar menyinden. "Mulai dari logat, cengkok, harus mendalami artinya juga," ujarnya.
Ia memuji Celine sebagai aktor yang sangat mendalami peran. Bahkan Agus mengaku mempunyai pengalaman mistis yang dialami saat syuting.
Mulai dari muncul sosok cantik hingga adegan di curug (air terjun) yang sebelum dijadikan tempat syuting ada dua orang yang meninggal dunia dan jasadnya ditemukan berupa pohon pisang.
"Ya tentu ada gangguan horor. Seperti akan syuting jam 02.00 dini hari di pendepo ketika ramai tiba-tiba diam dan ada sosok cantik dan aura luar biasa ketika itu memang ada adegan sakral dan celine dikuliti. Dan yang paling mengerikan saat ada adegan Celine di curug, ternyata curug habis ada yang meninggal laki dan perempuan dan waktu jasadnya ditemukan yang lihat hanya tiga orang, tapi masyarakat lihat jasad itu pohon pisang. Dan saya gak tau habis ada kejadian itu dan mengerikan angker lokasinya (curug)," ungkap Agus.
Pemilihan lokasi di lereng Merbabu juga bukan tanpa alasan. Karena alur ceritanya dan lokasinya memang angker.
"Kita ada 20 lokasi dan satu yang kita pilih karena memang itu lokasi alur cerita dan angkernya dapat," jelas Agus.
Agus berharap film Danyang Wingit Jumat Kliwon dapat dinikmati oleh masyarakat luas dan terus menerus ditonton.
"Mengangkat wayang karena banyak melupakan wayang yang dulu untuk dakwah masuknya Islam di tanah Jawa, tapi banyak yang dihilangkan. Perlu mengingat wayang. Dan nguri-nguri kebudayaan Jawa khususnya wayang," ujarnya.
Film ini juga akan tayang di Malaysia pada bulan Desember, kemudian rencananya di Vietnam, dan juga akan tayang di Amerika Serikat. "Karena ini kultural Indonesia kental sehingga diminati di luar negeri," tutur Agus.
Pecinta horor di Indonesia cukup besar, sehingga ia ingin menunjukkan lagi wayang dengan kolaborasi dengan horor.
"Mangkanya ketika riset ada wayang kulit manusia dan ini menarik sekali. Kita juga Menguri-nguri kebudayaan," pungkasnya. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari