RADAR SURABAYA - Kisah mengejutkan tentang kasus rahim copot yang dibagikan oleh dokter sekaligus penulis dr Gia Pratama mendadak viral di media sosial.
Cerita ini pertama kali ia ungkap dalam sebuah podcast bersama komika Raditya Dika, dan langsung memicu perdebatan luas di kalangan masyarakat maupun tenaga medis.
Banyak yang meragukan kebenaran cerita tersebut, namun sejumlah saksi mata dan dokter obgyn akhirnya mengonfirmasi bahwa peristiwa medis langka itu benar terjadi sekitar 15 tahun lalu di Garut, Jawa Barat.
Dalam ceritanya, dr Gia mengungkap bahwa saat bertugas di IGD RSUD dr Slamet Garut, ia mendapati seorang pasien perempuan pasca melahirkan dengan kondisi rahim terlepas.
Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 02.00 dini hari, dan menjadi pengalaman yang tidak pernah ia lupakan sepanjang kariernya. Menurut Gia, kondisi pasien sangat kritis dan membutuhkan penanganan segera.
“Kasus rahim copot ini benar terjadi sekitar 15 tahun lalu di Garut. Saat itu saya bertugas di IGD RSUD dr Slamet,” ungkap dr Gia Pratama.
Cerita tersebut sempat menuai kontroversi. Sejumlah dokter kandungan menilai bahwa istilah “rahim copot” hampir mustahil terjadi karena rahim memiliki struktur yang sangat kuat. Kondisi yang lebih mungkin adalah inversio uteri, yaitu rahim terbalik keluar melalui vagina.
Namun, klarifikasi dari dokter obgyn yang menangani kasus ini, dr Christofani Ekapatria, memperkuat kebenaran cerita. Ia menyebut peristiwa itu memang benar terjadi dan menjadi pengalaman “sekali seumur hidup” dalam praktik kedokterannya.
“Awalnya saya juga tidak percaya, tapi setelah melihat langsung, memang benar terjadi. Ini pengalaman sekali seumur hidup,” kata dr Christofani yang merupakan konsultan fertilitas yang mengaku menangani kasus 'rahim copot' bersama dr Gia Pratama 15 tahun lalu.
“Untuk semua bumil periksakanlah kehamilan dan bersalinlah di fasilitas kesehatan yang baik," pesan dr Christofani.
Faktor penyebab kasus ini diduga berkaitan dengan penanganan persalinan yang sebelumnya dilakukan oleh dukun beranak.
Praktik tradisional yang tidak sesuai standar medis tersebut memperburuk kondisi pasien hingga rahim terlepas. Hal ini menyoroti pentingnya penanganan persalinan oleh tenaga kesehatan profesional untuk mencegah risiko fatal.
Kasus ini kemudian menjadi viral karena dianggap sangat langka dan jarang terdokumentasi.
Publik pun ramai membicarakan istilah “rahim copot” yang sebelumnya tidak dikenal luas.
Meski begitu, para ahli menekankan bahwa kasus ini harus dipahami dalam konteks medis, bukan sekadar sensasi.
Kasus rahim copot yang diviralkan oleh dr Gia Pratama bukan sekadar cerita sensasional, melainkan peristiwa medis langka yang benar terjadi di Garut 15 tahun lalu.
Meski sempat menuai keraguan, pengakuan saksi mata dan dokter obgyn yang menangani pasien memperkuat kebenaran kisah tersebut.
Polemik ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya penanganan medis profesional pasca persalinan serta bahaya praktik tradisional yang tidak sesuai standar kesehatan.
Viral-nya kasus ini juga membuka ruang edukasi publik tentang kondisi medis langka dan urgensi pelayanan kesehatan yang aman bagi ibu dan bayi. (net/nur)
Editor : Nurista Purnamasari