Radar Surabaya – Kekerasan tidak selalu berbentuk fisik, tetapi juga bisa terjadi secara emosional. Sayangnya, bentuk kekerasan ini sering luput dari perhatian karena tidak meninggalkan bekas nyata atau bukti yang mudah dikenali.
Kekerasan emosional (emotional abuse) merupakan tindakan nonfisik yang bertujuan mengontrol, merendahkan, atau menyakiti kondisi mental seseorang. Kekerasan ini dapat berlangsung bersamaan dengan kekerasan verbal, fisik, maupun seksual, dan sama berbahayanya meskipun tanpa sentuhan fisik.
Dampaknya dapat merusak kesehatan mental korban serta terjadi di berbagai lingkungan, seperti hubungan romantis, keluarga, pertemanan, hingga tempat kerja.
Penting bagi setiap individu mengenali ciri-ciri emotional abuse, di antaranya.
Merasa Bersalah Tanpa Alasan Jelas
Rasa bersalah yang muncul meski tidak melakukan kesalahan bisa menjadi tanda adanya kekerasan emosional. Pelaku sering memanipulasi korban melalui kalimat seperti “Kamu selalu bikin aku marah.” Lama-kelamaan, korban merasa tidak berharga dan kehilangan kepercayaan diri.
Menyembunyikan Perasaan Demi Menghindari Konflik
Dalam hubungan yang diwarnai emotional abuse, korban sering menahan perasaan untuk menghindari pertengkaran atau reaksi negatif. Ketakutan disalahkan membuatnya memilih diam, padahal sikap ini merupakan bentuk kontrol tersembunyi yang perlahan melemahkan kepercayaan diri.
Bercanda yang Menyakiti
Candaan memang dapat mencairkan suasana, namun jika dilakukan berlebihan dan tetap dilanjutkan meski sudah diminta berhenti, hal itu bisa menjadi bentuk kekerasan emosional terselubung. Korban kerap dijadikan bahan lelucon hingga menimbulkan rasa tidak nyaman dan terhina.
Posesif dan Mengontrol Berlebihan
Menjaga batas dalam hubungan adalah hal penting. Namun, sikap posesif yang mengekang kebebasan dan ruang pribadi, seperti memaksa meminta akses media sosial pasangan, merupakan bentuk kontrol yang dapat memicu konflik dan berujung pada emotional abuse.
Dampaknya tidak bisa dianggap remeh. Menurut National Society for the Prevention of Cruelty to Children (NSPCC), korban kekerasan emosional dapat mengalami gangguan perilaku, ketergantungan pada orang lain, hingga tindakan berisiko.
Selain itu, korban berpotensi mengalami depresi, kecemasan, rendahnya rasa percaya diri, serta kesulitan mengekspresikan emosi.
Cara paling efektif untuk menghindari emotional abuse adalah menjauh dari pelaku. Meski tidak mudah, langkah ini merupakan bentuk perlindungan diri yang penting. Jika diperlukan, mintalah bantuan orang terpercaya atau tenaga profesional agar dapat melepaskan diri sepenuhnya dari hubungan yang beracun. (bil/fir)
Editor : M Firman Syah