RADAR SURABAYA - Sunscreen atau tabir surya kini menjadi produk esensial dalam perawatan kulit, terutama untuk melindungi dari paparan sinar ultraviolet (UV).
Namun, perlindungan kulit dari matahari bukanlah konsep baru. Sejarah sunscreen mencakup ribuan tahun praktik tradisional hingga inovasi ilmiah modern.
Dari ramuan alami bangsa Mesir Kuno hingga sistem Sun Protection Factor (SPF) yang kita kenal saat ini, tabir surya telah mengalami evolusi panjang.
Awal Mula Sunscreen dan Penemuan Formula Modern
Perlindungan kulit dari sinar matahari telah dikenal sejak zaman kuno. Bangsa Mesir Kuno sekitar 3000 SM menggunakan bahan alami seperti beras, melati, dan lupin untuk menjaga kulit tetap cerah dan terlindungi.
Penelitian modern menunjukkan bahwa bahan-bahan tersebut memang memiliki kemampuan menyerap sebagian sinar UV.
Namun, sunscreen dalam bentuk krim modern baru dikembangkan pada abad ke-20. Pada tahun 1938, seorang apoteker asal Austria bernama Franz Greiter menciptakan formula tabir surya pertama yang dikenal sebagai Gletscher Creme.
Produk ini dirancang untuk melindungi kulit dari sengatan matahari saat ia mendaki gunung Piz Buin di Pegunungan Alpen.
Nama gunung tersebut kemudian diabadikan sebagai merek sunscreen yang populer hingga kini.
Greiter juga dikenal sebagai pencetus sistem Sun Protection Factor (SPF) pada tahun 1962, yang menjadi standar global dalam mengukur efektivitas sunscreen.
Formula awal Gletscher Creme menggunakan bahan-bahan sederhana yang mampu menyerap sinar UVB, meski perlindungannya masih terbatas dibandingkan produk masa kini.
Seiring waktu, pengembangan sunscreen semakin maju. Pada tahun 1944, Benjamin Green, seorang dokter militer Amerika, menciptakan "Red Vet Pet" (Red Veterinary Petrolatum) untuk melindungi tentara dari sengatan matahari di Pasifik.
Produk ini menjadi dasar pengembangan Coppertone, salah satu merek sunscreen komersial pertama di AS.
Sejarah sunscreen mencerminkan perjalanan panjang manusia dalam melindungi kulit dari bahaya sinar matahari.
Dari ramuan tradisional hingga inovasi ilmiah, tabir surya telah berevolusi menjadi produk yang tidak hanya melindungi, tetapi juga merawat kulit.
Penemuan Franz Greiter pada 1938 menjadi tonggak penting dalam sejarah sunscreen, membuka jalan bagi sistem SPF dan formulasi yang lebih aman dan efektif.
Kini, sunscreen bukan hanya kebutuhan kosmetik, tetapi juga bagian dari gaya hidup sehat dan perlindungan jangka panjang terhadap risiko kanker kulit dan penuaan dini. (nur)
Editor : Nurista Purnamasari