Radar Surabaya - Olahraga merupakan salah satu aktivitas terbaik untuk menjaga kesehatan jantung. Ketika berolahraga, tubuh membutuhkan lebih banyak oksigen dibandingkan saat beristirahat, sehingga jantung harus memompa darah lebih cepat agar suplai oksigen ke seluruh tubuh terpenuhi.
Peningkatan detak jantung selama berolahraga adalah hal yang normal dan menandakan jantung bekerja dengan baik. Aktivitas fisik juga membantu memperlancar metabolisme tubuh, mencegah penumpukan lemak di bawah kulit maupun di arteri, serta menurunkan risiko penyakit jantung dalam jangka panjang.
Selain itu, olahraga teratur berperan penting dalam menurunkan tekanan darah dan mengurangi risiko hipertensi, faktor utama penyebab gangguan jantung.
Namun, di balik manfaatnya, aktivitas fisik berat juga dapat memicu henti jantung mendadak pada sebagian kecil orang yang memiliki gangguan jantung. National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI) mencatat bahwa kondisi ini dapat terjadi saat berolahraga intens maupun sesaat setelahnya.
Penelitian dalam jurnal Circulation menemukan bahwa henti jantung bisa muncul selama latihan hingga satu jam setelah olahraga berakhir, meski kasusnya jarang terjadi. Beberapa jenis olahraga yang kerap dikaitkan dengan kondisi ini antara lain berlari, bersepeda, berenang, latihan di gym, bermain basket, dan menari.
Sebelum henti jantung terjadi, penderita biasanya mengalami gejala seperti nyeri dada, pusing, mual, tubuh terasa tidak nyaman, atau kejang sebelum kehilangan kesadaran. Secara medis, sudden cardiac arrest adalah kondisi ketika jantung berhenti memompa darah secara tiba-tiba, sehingga pasokan oksigen ke otak dan organ vital terhenti.
Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan otak permanen bahkan kematian.
Ketika berolahraga, tubuh melepaskan hormon adrenalin untuk meningkatkan detak jantung dan mempercepat aliran darah. Namun, jika olahraga dilakukan terlalu berat, lonjakan adrenalin dapat membuat jantung bekerja berlebihan.
Pada individu dengan riwayat gangguan irama jantung (aritmia), kondisi ini bisa memicu henti jantung mendadak karena sistem kelistrikan jantung terganggu.
Dehidrasi juga menjadi faktor pemicu lainnya. Kekurangan cairan menyebabkan penurunan kadar mineral penting seperti kalium dan magnesium yang berfungsi menjaga kestabilan impuls listrik jantung.
Jika kadar mineral terlalu rendah, irama jantung bisa terganggu dan menimbulkan aritmia hingga henti jantung.
Risiko henti jantung mendadak dapat meningkat apabila seseorang memiliki kondisi medis tertentu yang memengaruhi fungsi jantung. Riwayat serangan jantung, misalnya, dapat menyebabkan kerusakan jaringan atau pembentukan jaringan parut yang mengganggu sistem kelistrikan jantung.
Selain itu, penyakit kardiomiopati yang ditandai dengan penebalan atau pelebaran otot jantung juga dapat membuat organ ini sulit memompa darah secara normal. Risiko serupa juga dialami oleh penderita penyakit jantung bawaan, di mana struktur jantung yang tidak normal sejak lahir dapat menghambat aliran darah dan mengacaukan sistem listrik jantung.
Tak kalah penting, gaya hidup tidak sehat seperti obesitas, kebiasaan merokok, serta pola makan tinggi lemak turut mempersempit pembuluh darah dan meningkatkan kemungkinan terjadinya henti jantung mendadak.
Bagi mereka yang memiliki faktor risiko tersebut, olahraga intens tanpa pengawasan dapat memperbesar kemungkinan terjadinya henti jantung mendadak.
Agar tetap aman berolahraga dan memperoleh manfaatnya secara optimal, perhatikan hal-hal berikut.
Pastikan kondisi tubuh fit
Tunda olahraga jika sedang sakit atau kelelahan, dan pastikan cukup tidur sebelum beraktivitas fisik.
Mulai dari intensitas ringan
Sesuai rekomendasi American College of Cardiology, lakukan olahraga intensitas sedang minimal 30 menit per hari, lima kali seminggu, dan tingkatkan secara bertahap.
Pilih jenis olahraga sesuai kondisi tubuh
Bagi yang memiliki riwayat gangguan jantung, konsultasikan dengan dokter sebelum menentukan jenis latihan yang aman.
Dengan memahami kondisi tubuh dan menerapkan olahraga secara bijak, risiko henti jantung mendadak dapat diminimalkan tanpa mengurangi manfaat kesehatan dari aktivitas fisik. (dta/fir)
Editor : M Firman Syah