Surabaya — Patah hati tampaknya telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak muda masa kini. Bagi sebagian besar Gen Z, kehilangan seseorang yang dicintai sering kali terasa seperti kehilangan arah hidup.
“Rasanya seperti ada yang kosong di dada,” ujar mahasiswa asal Surabaya, Ayu, 21, menggambarkan masa-masa sulit usai putus cinta.
Penelitian menunjukkan bahwa patah hati tidak hanya menimbulkan luka emosional, tetapi juga dapat menyebabkan rasa sakit fisik. Sebuah studi tahun 2011 mengungkapkan bahwa aktivitas otak seseorang yang melihat foto mantan kekasih serupa dengan respons ketika tubuh mengalami luka bakar ringan. Fenomena ini menjelaskan mengapa banyak orang merasakan “sakit” secara nyata saat hubungan berakhir.
Terima Dulu Rasa Sedihmu
Menurut sejumlah ahli kesehatan mental, langkah pertama untuk pulih dari patah hati adalah menerima emosi yang muncul. Tidak masalah jika merasa sedih, marah, atau kecewa, karena semua perasaan itu merupakan bagian dari proses penyembuhan.
“Patah hati sering kali menimbulkan nyeri fisik di dada karena melibatkan mekanisme saraf yang sama dengan rasa sakit,” jelas seorang psikiater dari klinik di Pune, India.
Ia menambahkan bahwa meskipun kesedihan adalah reaksi alami, kondisi ini dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari jika dibiarkan berlarut-larut.
Jangan Pendam Sendiri
Gen Z dikenal lebih terbuka dalam mengekspresikan diri, namun tak sedikit yang memilih diam saat menghadapi patah hati. Padahal, berbagi cerita dengan orang terpercaya seperti sahabat atau keluarga dapat mempercepat proses pemulihan.
Jika beban emosional terasa terlalu berat, mencari bantuan profesional seperti konselor atau psikolog bukanlah hal yang memalukan. Dukungan eksternal berperan penting agar seseorang tidak terjebak dalam perasaan putus asa yang berlarut.
Jaga Pola Hidup Sehat
Menjaga pola makan dan tidur tetap teratur juga berperan penting dalam proses penyembuhan. Banyak orang kehilangan nafsu makan atau mengalami gangguan tidur setelah putus cinta, padahal kondisi fisik yang sehat mendukung kestabilan emosi.
Selain itu, membatasi waktu di media sosial juga disarankan. Terlalu sering melihat unggahan mantan atau pasangan lain hanya akan memperpanjang kesedihan. Mengalihkan fokus ke aktivitas positif seperti hobi, kegiatan kreatif, atau kegiatan sosial bisa membantu menumbuhkan kembali semangat hidup.
Belajar Memaafkan
Langkah terakhir menuju pemulihan sejati adalah memaafkan, baik diri sendiri maupun mantan pasangan. Memaafkan bukan berarti melupakan, melainkan menerima bahwa setiap hubungan membawa pelajaran. Dengan berdamai, seseorang dapat melangkah maju tanpa beban masa lalu.
“Proses move on tidak ada rumus pasti,” kata seorang konselor.
“Namun yang pasti, berdamai dengan diri sendiri adalah bentuk cinta paling tulus yang bisa diberikan seseorang setelah patah hati.” (dwi/fir)
Editor : M Firman Syah