Radar Surabaya - Sebanyak 95 persen generasi Z di Indonesia menyatakan bahwa keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi (work-life balance/WLB) merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi oleh pemberi kerja. Survei menunjukkan bahwa kesehatan mental, fleksibilitas kerja, dan makna dalam pekerjaan menjadi pertimbangan utama mereka.
Generasi Z kerap dicap oleh generasi sebelumnya sebagai pekerja yang kurang berdedikasi, mudah berpindah tempat kerja, atau cepat mengundurkan diri. Namun, pandangan ini berubah ketika dipahami dari sudut kebutuhan mereka.
Banyak yang merasa lingkungan kerja saat ini belum mendukung keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Bagi generasi Z, WLB bukan sekadar “bekerja sebentar lalu istirahat”, melainkan soal makna pekerjaan, kendali atas waktu, dan ruang untuk berkembang secara pribadi. Mereka mencari tempat kerja dengan visi dan misi yang selaras dengan nilai-nilai mereka, kesempatan untuk fleksibel secara lokasi dan waktu, serta menghindari budaya kerja berlebihan atau hustle culture.
Banyak generasi Z memilih pekerjaan freelance atau sistem kerja fleksibel karena memungkinkan pengaturan jam kerja dan lokasi kerja sesuai kebutuhan, sehingga memfasilitasi pencapaian WLB. Alasan utama mereka mengutamakan WLB adalah menjaga kesehatan mental, meningkatkan semangat kerja, mengurangi stres, dan meningkatkan kinerja.
Bagi perusahaan, memahami kebutuhan ini menjadi krusial. Artikel terkait menyebutkan bahwa perusahaan yang menyediakan opsi jam kerja fleksibel, kerja jarak jauh atau hybrid, serta dukungan untuk kesehatan mental, berpotensi meningkatkan loyalitas dan performa karyawan generasi Z.
Seiring makin banyaknya generasi Z memasuki dunia kerja, pemberi kerja di Indonesia dihadapkan pada tantangan menyesuaikan kebijakan agar memenuhi ekspektasi mereka terhadap keseimbangan kerja-hidup. Fokus bukan lagi hanya pada gaji atau jabatan, tetapi pada bagaimana pekerjaan memberi ruang bagi kehidupan pribadi, makna, dan kontrol atas waktu karyawan. (wfq/fir)
Editor : M Firman Syah