Radar Surabaya – Garam merupakan bumbu dapur yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Baik dalam masakan tradisional maupun modern, rasa asin dari garam menjadi elemen penting yang memperkaya cita rasa kuliner.
Namun, di balik bentuknya yang sederhana, garam memiliki berbagai jenis dengan kandungan mineral dan manfaat yang berbeda. Beberapa jenisnya bahkan dipercaya lebih menyehatkan dibandingkan garam meja biasa.
Memahami karakteristik tiap jenis garam penting agar masyarakat dapat menyesuaikan konsumsi sesuai kebutuhan tubuh. Sebab, baik kelebihan maupun kekurangan asupan garam, terutama yodium, dapat menimbulkan gangguan kesehatan.
Garam Meja
Jenis ini merupakan garam paling umum yang digunakan dalam rumah tangga. Mengandung lebih dari 97 persen natrium klorida, garam meja biasanya diperkaya dengan yodium untuk mencegah gangguan fungsi kelenjar tiroid.
Garam Laut
Dihasilkan melalui proses penguapan air laut, garam laut masih menyimpan berbagai mineral alami seperti kalium dan seng. Rasa asinnya lebih kuat karena mengandung sisa mineral laut yang tidak hilang selama proses pengeringan.
Garam Himalaya
Berwarna merah muda lembut, garam Himalaya berasal dari tambang Khewra di Pakistan. Kandungan mineralnya mencapai sekitar 84 jenis, termasuk zat besi, kalsium, dan magnesium. Garam ini populer di seluruh dunia karena dianggap sebagai salah satu jenis garam paling murni dan bernutrisi tinggi.
Baca Juga: Komisi B DPRD Jatim Fokus Kawal Raperda Perlindungan Nelayan dan Petambak Garam
Garam Kosher
Memiliki tekstur kasar dan mudah larut, garam kosher banyak digunakan oleh para juru masak profesional. Jenis ini tidak mengandung yodium dan menghasilkan rasa asin yang lebih lembut, sehingga cocok untuk mengontrol kadar garam dalam hidangan.
Garam Celtic
Berasal dari pesisir Prancis, garam Celtic berwarna abu-abu dengan kandungan magnesium dan kalsium yang cukup tinggi. Teksturnya lembap karena memiliki kadar air lebih besar dibanding jenis garam lainnya, menjadikannya pilihan ideal untuk hidangan alami tanpa bahan tambahan.
Garam Epsom
Meski disebut garam, bahan ini tidak digunakan untuk konsumsi. Garam Epsom terdiri dari magnesium sulfat dan banyak dimanfaatkan untuk relaksasi tubuh, meredakan nyeri otot, serta perawatan kulit melalui rendaman air hangat.
Garam Kala Namak
Dikenal juga sebagai black salt, garam ini populer di India dan Nepal. Kandungan belerangnya menimbulkan aroma khas menyerupai telur, menjadikannya bahan favorit dalam kuliner vegan yang membutuhkan cita rasa gurih alami.
Garam Fleur de Sel
Dikenal sebagai “bunga garam”, jenis ini dikumpulkan dari permukaan laut menggunakan metode tradisional. Teksturnya halus, beraroma lembut, dan sering digunakan untuk memperkaya rasa serta tampilan hidangan istimewa.
Dengan mengenali karakteristik dan manfaat dari masing-masing jenis garam, masyarakat dapat menyesuaikan pilihan sesuai kebutuhan tubuh dan gaya hidup. Konsumsi garam yang tepat tidak hanya menambah cita rasa, tetapi juga mendukung keseimbangan mineral dan kesehatan secara keseluruhan. (gab/fir)
Editor : M Firman Syah