Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Kenali Gejala Mata Minus pada Anak Sebelum Terlambat

Muhammad Firman Syah • Rabu, 22 Oktober 2025 | 22:36 WIB
Ilustrasi anak menggunakan kacamata, pengingat pentingnya deteksi dini gangguan penglihatan.
Ilustrasi anak menggunakan kacamata, pengingat pentingnya deteksi dini gangguan penglihatan.

Radar Surabaya – Gangguan penglihatan berupa mata minus atau rabun jauh sering kali tidak disadari oleh orang tua. Padahal, kondisi ini dapat memengaruhi prestasi belajar dan perkembangan anak jika tidak segera ditangani.

Dokter spesialis mata dari Bethsaida Hospital Gading Serpong, Artha Latief, mengungkapkan bahwa gejala mata minus kerap muncul secara perlahan sehingga luput dari perhatian keluarga.

“Mata minus pada anak sering kali tidak disadari orang tua. Bila tidak segera diperiksa, minus bisa bertambah tanpa diketahui,” ujar Artha, Selasa (21/10).

Artha menjelaskan, mata minus terjadi ketika cahaya yang masuk tidak jatuh tepat di retina, melainkan di depannya, sehingga benda jauh tampak kabur. Kondisi ini dapat mengganggu konsentrasi anak dan menurunkan performa belajar di sekolah.

Menurutnya, penyebab utama mata minus pada anak berasal dari kebiasaan terlalu lama menatap layar, kurang beraktivitas di luar ruangan, serta faktor keturunan. Karena itu, ia mengimbau orang tua agar lebih waspada terhadap tanda-tanda anak mengalami gangguan penglihatan.

Beberapa gejala yang perlu diperhatikan antara lain anak sering menyipitkan mata saat melihat objek jauh, duduk terlalu dekat dengan televisi, layar gawai, atau papan tulis, sering mengedip atau mengeluh sakit kepala, serta mudah merasa lelah saat membaca.

Selain itu, anak yang kesulitan mengenali tulisan atau objek dari jarak jauh juga patut dicurigai mengalami gangguan penglihatan.

“Bila anak menunjukkan gejala-gejala tersebut, segera lakukan pemeriksaan ke dokter mata untuk memastikan kondisi penglihatannya,” tambah Artha.

Ia menegaskan bahwa penanganan mata minus tidak hanya terbatas pada penggunaan kacamata. Dokter dapat merekomendasikan lensa khusus, terapi penglihatan, atau penggunaan obat tetes mata tertentu seperti midriatika atropine untuk mengendalikan pertambahan minus.

“Penanganan yang tepat sejak dini bisa membantu mencegah komplikasi serius di kemudian hari,” jelasnya.

Selain pemeriksaan rutin, Artha juga menyarankan agar orang tua membantu anak menjaga kesehatan mata melalui kebiasaan sederhana, seperti membatasi waktu penggunaan gawai (screen time), mendorong anak lebih banyak beraktivitas di luar ruangan, memastikan pencahayaan cukup saat belajar, mengaktifkan mode malam atau filter sinar biru pada perangkat elektronik, serta menghindari kebiasaan tidur dengan lampu menyala.

Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Pitono, menambahkan bahwa kesehatan mata merupakan bagian penting dari kualitas hidup.

“Kesehatan mata adalah bagian penting dari kualitas hidup. Pemeriksaan rutin dapat membantu mendeteksi gangguan lebih awal,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya asupan gizi untuk menjaga fungsi penglihatan. Konsumsi makanan seperti wortel, sayuran hijau, ikan berlemak kaya omega-3, dan buah tinggi vitamin C dapat membantu memperkuat retina serta mencegah kelelahan mata.

Artha menutup dengan imbauan agar orang tua tidak menunggu munculnya keluhan berat sebelum memeriksakan anak ke dokter mata.

“Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang mencegah minus bertambah. Pemeriksaan mata sebaiknya dilakukan secara rutin setiap enam bulan,” katanya. (wid/fir)

Editor : M Firman Syah