Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Thrifting, Gaya Hidup Cerdas dan Berkelanjutan Anak Muda Indonesia

Muhammad Firman Syah • Rabu, 22 Oktober 2025 | 22:17 WIB
Thrifting jadi simbol gaya hidup kreatif, hemat, dan ramah lingkungan bagi generasi muda Indonesia.
Thrifting jadi simbol gaya hidup kreatif, hemat, dan ramah lingkungan bagi generasi muda Indonesia.

Radar Surabaya - Budaya thrifting kini berkembang menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup anak muda Indonesia. Fenomena ini tidak hanya digemari karena harga barangnya yang terjangkau, tetapi juga karena nilai keberlanjutan, keunikan, serta ekspresi diri yang terkandung di balik setiap busana bekas yang ditemukan.

Tren thrifting mulai dikenal di Indonesia sejak awal 2000-an, ketika pasar seperti Pasar Senen di Jakarta dan Pasar Gedebage di Bandung menjadi pusat berburu pakaian bekas impor. Barang-barang yang dijual bukan hanya murah, tetapi juga berkualitas dan memiliki karakter khas yang sulit dijumpai di toko konvensional.

Perkembangan teknologi kemudian membawa perubahan besar pada cara orang ber-thrift. Kini, anak muda tidak lagi harus menyusuri pasar loak secara langsung, cukup membuka Instagram, TikTok, atau marketplace online untuk menemukan berbagai thrift shop digital yang menawarkan koleksi unik dan kurasi mode bernilai tinggi.

Alasan utama di balik popularitas thrifting antara lain harga yang ramah di kantong, keunikan busana vintage, serta meningkatnya kesadaran terhadap isu lingkungan. Barang bekas ini sering dianggap sebagai simbol gaya personal sekaligus bentuk perlawanan terhadap budaya konsumtif dari industri fast fashion yang serba cepat.

Dari sisi ekonomi, thrifting membuka peluang baru bagi generasi muda. Banyak pelaku bisnis digital memanfaatkan tren ini untuk membangun usaha thrift shop yang masuk dalam sektor ekonomi kreatif.

Aktivitas ini tidak hanya menciptakan lapangan kerja baru, tetapi juga mendukung praktik bisnis berkelanjutan. Sementara dari sisi lingkungan, kebiasaan membeli pakaian bekas membantu menekan produksi limbah tekstil yang kian mengkhawatirkan.

Tak sedikit pula anak muda yang menjadikan thrifting sebagai sarana eksplorasi gaya pribadi. Pakaian bekas kerap diubah, dikreasikan ulang, atau dipadupadankan menjadi tampilan baru yang lebih artistik dan ekspresif.

Namun, di balik euforianya, budaya thrifting juga menghadapi sejumlah tantangan. Mulai dari isu legalitas impor pakaian bekas, hingga kekhawatiran soal kebersihan dan persaingan bisnis di ranah digital. Meski demikian, semangat kreatif dan kesadaran lingkungan dari generasi muda menjadikan thrifting lebih dari sekadar tren mode. Ia telah berevolusi menjadi simbol gaya hidup cerdas, hemat, dan berkelanjutan. (nad/fir)

Editor : M Firman Syah
#Gaya Hidup #pakaian bekas #platform digital #Thrifting