Radar Surabaya - Tahi lalat adalah bintik berwarna cokelat atau hitam yang muncul di permukaan kulit akibat penumpukan pigmen melanin. Jumlahnya bervariasi pada setiap orang, ada yang hanya memiliki beberapa, namun ada pula yang memiliki sangat banyak.
Lantas, apa yang menyebabkan munculnya banyak tahi lalat di kulit? Berikut penyebab banyaknya tahi lalat yang muncul di kulit.
Faktor Genetik
Salah satu penyebab utama banyaknya tahi lalat adalah faktor keturunan. Jika orang tua memiliki banyak bintik pada kulit, kemungkinan besar anak akan memiliki jumlah yang serupa.
Warna kulit juga turut memengaruhi. Orang berkulit terang umumnya memiliki lebih banyak nevus pigmentosus atau bintik kecokelatan dibanding mereka yang berkulit lebih gelap. Bintik ini biasanya sudah muncul sejak masa kanak-kanak dan bisa terus bertambah hingga usia sekitar 25 tahun.
Paparan Sinar Ultraviolet (UV)
Mereka yang tinggal di wilayah tropis cenderung memiliki lebih banyak tahi lalat karena kulit sering terpapar sinar ultraviolet (UV) dari matahari. Paparan UV merangsang sel melanosit memproduksi lebih banyak melanin. Ketika pigmen ini menumpuk di satu area, terbentuklah bintik hitam yang tampak seperti tahi lalat.
Penggunaan Obat-obatan Tertentu
Beberapa jenis obat juga dapat memicu munculnya bintik hitam baru di kulit. Mengutip laman DermNetNZ, obat-obatan seperti kemoterapi, antimalaria, hingga pereda nyeri tertentu bisa memengaruhi produksi melanin.
Akibatnya, melanosit menghasilkan pigmen berlebih dan menyebabkan munculnya lebih banyak tahi lalat dari biasanya.
Faktor Hormon
Perubahan hormon juga berperan terhadap pertambahan jumlah tahi lalat. Kondisi ini lebih sering terjadi pada perempuan, terutama saat hamil atau menjelang menopause.
Pergeseran kadar hormon dapat memicu produksi melanin berlebih sehingga bintik-bintik tampak lebih gelap dan jumlahnya bertambah.
Menurut Mayo Clinic, rata-rata orang memiliki 10 hingga 40 tahi lalat di tubuh. Seiring bertambahnya usia, sebagian besar tahi lalat akan memudar secara perlahan dan jarang menimbulkan masalah kesehatan.
Namun, jika tahi lalat berubah bentuk, warna, atau menimbulkan rasa nyeri, sebaiknya segera periksa ke dokter kulit untuk memastikan kondisinya tetap aman.
Memiliki banyak tahi lalat sebenarnya normal, terutama di bagian tubuh yang sering terpapar sinar matahari seperti wajah, lengan, dan leher. Namun, tidak semua tahi lalat bersifat jinak. Beberapa bisa menjadi tanda awal gangguan serius pada kulit.
Tahi lalat yang perlu diwaspadai biasanya menunjukkan perubahan ukuran, bentuk, atau warna. Jika tahi lalat baru muncul di usia dewasa dan disertai gejala seperti gatal, nyeri, berdarah, atau mengeluarkan cairan, sebaiknya segera lakukan pemeriksaan medis. Kondisi tersebut dapat mengindikasikan melanoma, yaitu jenis kanker kulit yang berkembang dari sel penghasil pigmen (melanosit).
Melanoma umumnya muncul di bagian tubuh yang sering terpapar matahari seperti wajah, kepala, dan leher.
Tidak semua tahi lalat perlu dihilangkan, terutama jika bentuk dan warnanya stabil. Namun, ketika terjadi perubahan mencurigakan, pemeriksaan medis menjadi langkah penting. Berikut beberapa tindakan umum yang disarankan dokter.
Segera periksakan jika tahi lalat berubah bentuk, warna, atau ukuran, atau menimbulkan rasa gatal dan nyeri. Bila dicurigai mengandung sel kanker, dokter akan mengambil sampel jaringan untuk diperiksa di laboratorium. Jika hasil biopsi menunjukkan adanya sel berbahaya, dokter dapat melakukan prosedur eksisi untuk mengangkat jaringan tersebut.
Pada kasus melanoma, dokter mungkin merekomendasikan terapi tambahan seperti radiasi, imunoterapi, atau kemoterapi.
Menjaga kesehatan kulit dengan rutin memantau perubahan tahi lalat sangat penting. Deteksi dini menjadi langkah utama mencegah risiko kanker kulit dan memastikan kondisi kulit tetap sehat. (dta/fir)
Editor : M Firman Syah