Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Ahli Ungkap Alasan Otak Laki-laki Menyusut Lebih Cepat dari Otak Perempuan

Muhammad Firman Syah • Senin, 20 Oktober 2025 | 16:51 WIB
Otak manusia secara alami menyusut seiring usia, kecepatannya berbeda antara pria dan wanita.
Otak manusia secara alami menyusut seiring usia, kecepatannya berbeda antara pria dan wanita.

Radar Surabaya - Penuaan tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga pada otak manusia. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) menemukan bahwa otak pria menyusut lebih cepat dibandingkan otak wanita seiring bertambahnya usia.

Laporan Science Alert menyebutkan, mengecilnya ukuran otak merupakan bagian alami dari proses penuaan. Namun, pada penderita Alzheimer, penyusutan ini terjadi jauh lebih cepat hingga mengakibatkan penurunan volume otak yang signifikan.

Meski perempuan diketahui dua kali lebih berisiko mengidap Alzheimer dibanding pria, para ilmuwan belum sepenuhnya memahami bagaimana faktor jenis kelamin memengaruhi perubahan volume otak tersebut.

Penelitian terbaru menunjukkan, penyusutan otak wanita berlangsung lebih lambat, baik pada materi abu-abu maupun materi putih, dibandingkan dengan pria.

Menurut Anne Ravndal, ahli saraf dari Universitas Oslo, Norwegia, yang juga menjadi salah satu penulis studi tersebut, temuan ini dapat membantu menjelaskan tingginya angka kasus Alzheimer pada perempuan.

“Jika otak wanita mengalami penurunan jaringan yang lebih besar, hal tersebut mungkin berkaitan dengan tingginya angka kejadian Alzheimer,” jelasnya.

Ravndal bersama tim internasional menganalisis lebih dari 12.000 hasil pemindaian otak dari peserta berusia 17 hingga 95 tahun. Setiap partisipan menjalani sedikitnya dua kali pemindaian MRI dengan jeda sekitar tiga tahun.

Setelah memperhitungkan perbedaan ukuran otak berdasarkan jenis kelamin, para peneliti menemukan bahwa pria mengalami penyusutan di lebih banyak area, termasuk berbagai bagian korteks, terutama pada usia lanjut. Sementara itu, pada wanita, penurunan hanya terjadi di wilayah terbatas, dan ketebalan korteks cenderung stabil seiring bertambahnya usia.

Temuan ini memperkuat dugaan adanya perbedaan biologis antara pria dan wanita dalam proses penuaan otak. Namun, para ahli menekankan agar hasil studi tidak disimpulkan secara berlebihan karena masih dibutuhkan penelitian lanjutan untuk memahami mekanismenya secara menyeluruh.

Topik mengenai perbedaan pengaruh jenis kelamin terhadap penuaan otak masih jarang diteliti. Sebuah laporan tahun 2019 mencatat, hanya sekitar lima persen penelitian di bidang ilmu saraf dan psikiatri yang menyoroti aspek gender. Akibatnya, hasil kajian yang ada kerap tidak konsisten.

Beberapa studi menyebut pria mengalami penyusutan materi abu-abu dan putih lebih cepat, sementara studi lain menunjukkan hal sebaliknya.

Riset dari Universitas Oslo ini mencoba memperjelas perbedaan tersebut dengan meneliti sejumlah aspek, seperti volume otak secara keseluruhan, ukuran struktur subkortikal, ketebalan korteks dan luas permukaan otak.

Meski begitu, para ilmuwan belum dapat memastikan dampak pasti penyusutan otak terhadap kemampuan kognitif manusia. Mereka menilai masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami hubungan antara bentuk otak, fungsi kognitif dan risiko penyakit neurologis.

Menariknya, studi ini tidak menemukan perbedaan signifikan pada perubahan volume hippocampus, bagian otak yang berperan dalam memori dan pembelajaran serta berkaitan dengan demensia.

Pada perempuan, penurunan volume hippocampus justru lebih cepat di usia lanjut setelah memperhitungkan faktor harapan hidup yang umumnya lebih panjang dibandingkan pria. Kondisi ini diyakini mencerminkan proses penuaan yang lebih lambat, bukan peningkatan risiko demensia.

Ketika pria dan wanita dengan harapan hidup yang sama dibandingkan, tingkat penyusutan otak keduanya tampak seimbang. Namun, membedakan pengaruh jenis kelamin terhadap otak dari faktor genetik dan lingkungan masih menjadi tantangan karena keterbatasan penelitian jangka panjang yang komprehensif di bidang ini. (dta/fir)

Editor : M Firman Syah
#alzheimer #Kesehatan Otak #penyakit #otak menyusut #otak