Surabaya – Perdebatan seputar keamanan air rebusan mi instan kembali mencuat di kalangan masyarakat. Banyak yang beranggapan bahwa air rebusan pertama mengandung zat berbahaya dari pengawet dan penyedap, sementara sebagian lainnya menilai cairan tersebut tetap aman dikonsumsi selama tidak berlebihan.
Kebiasaan membuang air rebusan sebelum menambahkan bumbu pun menjadi praktik umum, didasari keyakinan bahwa cairan tersebut dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Namun, benarkah air rebusan mi instan berbahaya?
Menurut ulasan dari Healthline, air rebusan mi instan tidak bersifat toksik dan tidak berbahaya secara langsung. Zat seperti monosodium glutamat (MSG) dan natrium memang larut dalam air saat proses perebusan, tetapi kadarnya masih tergolong aman jika dikonsumsi sesekali.
“Air rebusan mi instan memang menyerap sebagian penyedap, garam, dan lemak, namun zat-zat ini bukan racun. Masalahnya muncul ketika konsumsi dilakukan berlebihan,” tulis laporan tersebut.
Satu bungkus mi instan umumnya mengandung lebih dari 1.700 mg natrium, mendekati batas harian yang direkomendasikan WHO sebesar 2 ribu mg. Jika dikonsumsi terlalu sering, asupan natrium berlebih dapat meningkatkan risiko hipertensi dan penyakit jantung.
Ahli gizi Inge Permadhi menjelaskan, membuang air rebusan pertama dapat sedikit mengurangi kadar karbohidrat sederhana yang mudah diserap tubuh.
“Kalau ingin mengurangi karbohidrat simpleks, air rebusan bisa dibuang. Tapi dari segi rasa memang berkurang kelezatannya,” ujarnya.
Namun, ia menegaskan langkah tersebut bukan keharusan.
“Tidak ada aturan pasti. Kalau mau lebih sehat, selain air rebusan, kurangi juga garam atau bumbunya. Tambah sayur dan putih telur akan jauh lebih baik,” tambahnya.
Sementara itu, ahli gizi komunitas Tan Shot Yen menilai bahwa air rebusan mi instan tidak memberikan nilai gizi berarti.
“Diganti atau tidak air rebusannya sama saja, tetap saja mi instan. Prinsipnya, jangan terlalu sering mengonsumsi mi instan. Itu makanan rekreasi, bukan untuk sehari-hari,” tegasnya.
Secara nutrisi, mi instan tergolong makanan rendah kalori dan gizi. Satu porsi mi instan rasa daging sapi hanya mengandung sekitar 188 kalori, 27 gram karbohidrat, 7 gram lemak, 4 gram protein, dan kurang dari 1 gram serat. Meskipun beberapa produk telah difortifikasi dengan zat besi, folat, atau vitamin B, kandungan gizinya tetap belum cukup untuk kebutuhan harian.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi mi instan secara berlebihan dapat menurunkan kualitas pola makan, meningkatkan asupan lemak dan natrium, serta menurunkan asupan protein, vitamin A, dan C.
Bahkan, sebuah studi di Korea Selatan menemukan bahwa konsumsi mi instan lebih dari dua kali seminggu berkaitan dengan peningkatan risiko sindrom metabolik, terutama pada perempuan. Sindrom ini berhubungan dengan diabetes, hipertensi dan penyakit jantung.
Dengan demikian, air rebusan mi instan bukanlah zat beracun, namun tetap tidak disarankan untuk dikonsumsi rutin. Kandungan natrium, MSG, dan lemaknya yang tinggi dapat menimbulkan risiko kesehatan jika dikonsumsi terus-menerus.
Para ahli menyarankan beberapa langkah agar mi instan tetap bisa dinikmati secara lebih sehat.
1. Buang air rebusan pertama untuk mengurangi kadar natrium dan karbohidrat sederhana.
2. Gunakan hanya sebagian bumbu yang disediakan.
3. Tambahkan sayur, putih telur, atau tempe untuk menambah protein dan serat.
Pilih varian mi rendah sodium atau berbahan dasar biji-bijian utuh.
Mi instan tetap aman dikonsumsi sesekali, asalkan tidak menjadi makanan pokok. Air rebusannya tidak perlu ditakuti, tetapi juga tidak disarankan untuk diminum secara rutin. (wid/fir)
Editor : M Firman Syah