Radar Surabaya - Banyak orang menganggap kantuk di siang hari disebabkan kurang tidur. Padahal, mengantuk meski sudah tidur cukup bisa dipicu berbagai faktor lain, mulai dari kualitas tidur yang buruk hingga gangguan kesehatan tertentu.
Kondisi ini sering membuat seseorang sulit berkonsentrasi, cepat lelah, dan kehilangan semangat, meski durasi tidur malam telah sesuai anjuran 7–8 jam. Para ahli menegaskan, rasa kantuk berlebihan tidak hanya dipengaruhi oleh lamanya waktu tidur, tetapi juga gaya hidup, kondisi mental, dan kualitas istirahat secara keseluruhan.
Kualitas Tidur Buruk
Tidur lama bukan jaminan tubuh terasa segar. Sering terbangun karena suara, cahaya, atau suhu ruangan yang tidak nyaman dapat menurunkan kualitas tidur. Gangguan seperti sleep apnea atau mimpi buruk juga menghambat fase tidur nyenyak sehingga tubuh tetap terasa lelah.
Kurang Aktivitas Fisik
Kurang bergerak dapat menyebabkan sirkulasi darah melambat dan memicu kantuk berlebih. Aktivitas ringan seperti berjalan kaki, peregangan, atau naik tangga dapat membantu meningkatkan energi dan menjaga kesegaran tubuh.
Efek Samping Obat
Beberapa obat memiliki efek samping kantuk meski waktu tidur sudah cukup. Obat alergi (antihistamin), penenang, antikejang, dan antidepresan termasuk di antaranya. Bila kantuk muncul setelah mengonsumsi obat tertentu, sebaiknya konsultasikan ke dokter untuk menyesuaikan dosis atau mencari alternatif lain.
Kekurangan Zat Besi
Anemia atau kekurangan zat besi dapat menurunkan kadar sel darah merah yang membawa oksigen ke seluruh tubuh. Akibatnya, tubuh cepat lelah, sulit fokus, dan mudah mengantuk. Kondisi ini umum terjadi pada wanita dengan menstruasi berat atau individu yang kurang mengonsumsi makanan bergizi.
Terlalu Lama Menatap Layar
Paparan cahaya biru dari layar ponsel atau komputer, terutama sebelum tidur, menghambat produksi hormon melatonin yang mengatur siklus tidur. Akibatnya, otak tetap aktif dan kualitas tidur menurun. Kondisi ini sering dialami remaja dan anak muda yang terbiasa bermain gadget hingga larut malam.
Baca Juga: Rahasia Kantuk Usai Makan, Ternyata Bukan Karena Kurang Tidur
Gangguan Tidur
Gangguan seperti sleep apnea, insomnia, atau narkolepsi bisa menyebabkan rasa kantuk berat meski tidur cukup. Gejalanya meliputi mendengkur keras, sering terbangun, atau tetap mengantuk di siang hari. Jika berlangsung terus-menerus, penting untuk melakukan pemeriksaan medis.
Stres dan Masalah Psikologis
Kondisi emosional berpengaruh besar terhadap kualitas tidur. Stres, kecemasan, atau depresi dapat membuat tubuh sulit beristirahat tenang. Meski tidur cukup lama, otak belum benar-benar beristirahat sehingga tubuh tetap terasa lelah.
Untuk mengatasi rasa kantuk berlebih, ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan agar tubuh tetap segar dan produktif. Pertama, biasakan tidur dan bangun pada jam yang sama setiap hari untuk menjaga ritme sirkadian tubuh tetap seimbang.
Kedua, hindari penggunaan gadget setidaknya satu jam sebelum tidur karena paparan cahaya biru dari layar dapat mengganggu produksi hormon melatonin.
Selain itu, rutinlah berolahraga ringan minimal 30 menit setiap hari untuk meningkatkan energi dan kualitas tidur. Pola makan juga berperan penting, konsumsi makanan bergizi seimbang serta cukup cairan agar tubuh tetap bugar.
Hindari pula minuman berkafein seperti kopi menjelang waktu tidur karena dapat menghambat rasa kantuk alami. Lakukan kegiatan relaksasi seperti meditasi atau pernapasan dalam untuk membantu mengelola stres dan menenangkan pikiran.
Jika rasa kantuk berlebih tetap berlangsung tanpa sebab yang jelas, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter guna mendapatkan penanganan yang tepat. (dta/fir)
Editor : M Firman Syah