Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Generasi Z Dorong Lonjakan Utang PayLater Nasional Capai Rp 24,33 Triliun

Muhammad Firman Syah • Rabu, 15 Oktober 2025 | 23:27 WIB
Ilustrasi pembayaran dengan paylater.
Ilustrasi pembayaran dengan paylater.

Radar Surabaya – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat peningkatan signifikan penggunaan layanan PayLater di Indonesia. Total nilai utang nasional dari sistem pembayaran tunda itu kini mencapai Rp 24,33 triliun, dengan generasi Z menjadi penyumbang terbesar kedua, yakni 39,94 persen dari total debitur.

Fenomena ini menunjukkan pergeseran perilaku konsumsi masyarakat yang kian bergantung pada sistem pembayaran digital. Platform seperti Shopee, Gojek, dan Tokopedia menjadi pionir dalam transaksi daring tanpa tatap muka sekaligus mempopulerkan fitur PayLater sebagai alternatif metode pembayaran modern.

Layanan ini menawarkan tenor antara tiga hingga dua belas bulan dengan angsuran tanpa bunga di awal, menjadikannya lebih menarik dibandingkan metode pembayaran konvensional yang langsung mengenakan bunga sejak awal transaksi.

Meski demikian, kemudahan tersebut tetap menyimpan risiko. Aplikasi PayLater menerapkan denda bunga jika pembayaran melewati batas waktu yang ditentukan. Keterlambatan pelunasan juga dapat memengaruhi rekam jejak keuangan pengguna dan berdampak pada akses kredit jangka panjang seperti Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Dari perspektif ekonomi neoklasik, perilaku penggunaan PayLater dianggap sebagai tindakan rasional. Varian (2019) dalam Intermediate Microeconomics menjelaskan bahwa keputusan ekonomi didasarkan pada preferensi individu yang berupaya memaksimalkan kepuasan (utilitas). Sementara Kumar et al. (2024) mengemukakan konsep present bias, yakni kecenderungan seseorang memilih keuntungan langsung meski berisiko menanggung kerugian di masa depan.

Namun, pendekatan ekonomi murni tidak sepenuhnya mampu menjelaskan kompleksitas perilaku pengguna. Dalam kerangka sosiologi ekonomi, Granovetter (1992) memperkenalkan konsep embeddedness, yaitu keputusan ekonomi yang terbentuk dari perpaduan antara rasionalitas individu dan nilai sosial. Faktor kepercayaan, relasi personal, serta pengaruh lingkungan sosial menjadi variabel penting dalam keputusan seseorang menggunakan PayLater.

Pengaruh sosial ini kian kuat melalui media digital. Gaya hidup konsumtif yang ditampilkan influencer dan teman sebaya mendorong generasi muda mengikuti tren serupa. Berdasarkan survei Zigi & KIC (2022), sebanyak 61 persen generasi Z mengalokasikan pengeluaran terbesar mereka untuk kebutuhan fesyen seperti pakaian dan aksesori. Temuan ini menunjukkan bahwa keputusan finansial generasi muda tidak terlepas dari norma sosial digital yang membentuk citra gaya hidup modern.

Dampaknya, ketergantungan pada sistem kredit seperti PayLater berpotensi menimbulkan utang konsumtif apabila pengguna tidak mampu mengelola keuangan dengan baik. Risiko tersebut dapat memengaruhi kondisi psikologis sekaligus mengganggu stabilitas finansial individu, terutama bagi mereka yang tidak memiliki dana darurat.

Kendati demikian, faktor sosial tidak sepenuhnya menghilangkan otonomi individu. Generasi Z tetap memiliki kebebasan menentukan keputusan finansial, meski sering kali dipengaruhi oleh jejaring sosial dan budaya digital. Karena itu, peningkatan literasi keuangan digital menjadi langkah penting agar layanan PayLater dapat dimanfaatkan secara bijak dan tidak menjerumuskan pengguna pada perilaku konsumtif berlebihan.

Sebagaimana dijelaskan dalam teori sosial-ekonomi, keputusan ekonomi tidak sepenuhnya over-socialized (berdasarkan norma sosial) atau under-socialized (murni rasional). Keduanya saling memengaruhi perilaku konsumen. Kesadaran diri dalam mengelola keinginan konsumtif menjadi kunci agar tren “Buy Now, Pay Later” tidak berubah menjadi “Buy Now, Regret Later.” (ris/fir)

Editor : M Firman Syah
#PayLater #utang #aplikasi #ojk #Gen Z #Buy Now Pay Later