Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Kasus Dugaan Penipuan Roti Repack dengan Klaim Gluten Free, Yuk Kenali Bahaya Gluten Bagi Kesehatan!

Nurista Purnamasari • Selasa, 14 Oktober 2025 | 13:05 WIB
Produk yang mengandung gluten biasanya adalah roti-rotian yang berbahan gandum.
Produk yang mengandung gluten biasanya adalah roti-rotian yang berbahan gandum.

RADAR SURABAYA - Di sosial media (sosmed) beberapa waktu yang lalu ramai soal kasus dugaan penipuan produk roti dari sebuah brand bakery yang mengkalim produknya gluten free, dairy free, sugar free, dan vegan.

Ternyata salah seorang pelanggannya melaporkan bahwa anaknya yang berusia 17 bulan memiliki sensitivitas terhadap gluten mengalami ruam dan bengkak setelah mengonsumsi roti dari toko tersebut.

Ia kemudian membagikan pengalamannya di akun Instagram, yang kemudian menjadi viral di berbagai platform, termasuk TikTok.

Ia juga menunjukkan hasil uji laboratorium produk tersebut tidak sesuai dengan klaim yang tertera. Sebenarnya amankah produk gluten bagi mereke yang tidak memiliki alergi atau menderita autoimun? lalu bahanya apa bagi mereka yang sensitif terhadap gluten?.

Gluten, protein kompleks yang ditemukan dalam gandum, barley, dan rye, telah menjadi topik kontroversial dalam dunia kesehatan dan nutrisi.

Bagi sebagian orang, gluten adalah bagian dari pola makan sehari-hari yang tidak menimbulkan masalah.

Namun, bagi kelompok tertentu, seperti penderita penyakit celiac, alergi gandum, atau gangguan autoimun, gluten dapat menjadi pemicu gangguan serius yang memengaruhi kualitas hidup secara signifikan.

Dalam beberapa tahun terakhir, tren diet bebas gluten meningkat pesat, bahkan di kalangan orang sehat.

Apa Itu Gluten dan Bagaimana Ia Bekerja?

Gluten terdiri dari dua protein utama, yakni gliadin dan glutenin. Gliadin adalah komponen yang paling banyak dikaitkan dengan respons imun pada penderita celiac.

Gluten memberikan elastisitas pada adonan roti dan membantu makanan mempertahankan bentuknya.

Namun, ketika dikonsumsi oleh individu yang sensitif atau memiliki gangguan autoimun, gluten dapat memicu reaksi imun yang merusak jaringan tubuh.

Menurut Harvard T.H. Chan School of Public Health, gluten tidak berbahaya bagi mayoritas populasi.
Namun, sekitar 1% penduduk dunia menderita penyakit celiac, dan sekitar 6% mengalami sensitivitas gluten non-celiac (NCGS), yang dapat menimbulkan gejala mirip celiac tanpa kerusakan usus.

Dampak Gluten Berdasarkan Kelompok Risiko

1. Orang Sehat: Efek Ringan tapi Nyata
Bagi orang tanpa alergi atau gangguan autoimun, gluten umumnya aman. Namun, studi dari Journal of Gastroenterology and Hepatology (2020) menunjukkan bahwa konsumsi gluten dalam jumlah besar dapat mengganggu keseimbangan mikrobiota usus dan menyebabkan inflamasi ringan.

Gejala seperti kembung, kelelahan, dan gangguan mood juga dilaporkan oleh sebagian individu yang tidak terdiagnosis celiac, kondisi yang disebut sebagai sensitivitas gluten non-celiac.

Beberapa studi juga mengaitkan gluten dengan peningkatan permeabilitas usus (leaky gut), yang memungkinkan partikel asing masuk ke aliran darah dan memicu peradangan sistemik.

Meski belum terbukti secara konklusif pada populasi umum, temuan ini mendorong perlunya konsumsi gluten secara moderat.

2. Alergi Gandum: Reaksi Cepat dan Berbahaya
Alergi gandum adalah reaksi imun terhadap protein dalam gandum, termasuk gluten.
Gejalanya bisa muncul dalam hitungan menit hingga jam setelah konsumsi, mulai dari ruam kulit, sesak napas, hingga anafilaksis.

Menurut American College of Allergy, Asthma & Immunology, alergi gandum paling umum terjadi pada anak-anak, namun bisa berlanjut hingga dewasa.

Diagnosis alergi gandum dilakukan melalui tes kulit atau tes darah IgE. Penghindaran total terhadap produk berbasis gandum adalah satu-satunya cara efektif untuk mencegah reaksi alergi.

3. Penyakit Celiac: Autoimun yang Merusak Usus
Penyakit celiac adalah gangguan autoimun di mana konsumsi gluten memicu sistem imun menyerang vili usus halus.

Akibatnya, tubuh tidak dapat menyerap nutrisi dengan baik, yang dapat menyebabkan anemia, osteoporosis, infertilitas, dan gangguan neurologis.

Studi dari The American Journal of Clinical Nutrition (2019) menunjukkan bahwa penderita celiac yang tidak menjalani diet bebas gluten memiliki risiko 2–3 kali lipat lebih tinggi mengalami komplikasi jangka panjang.

Gejala celiac bisa sangat bervariasi, mulai dari diare kronis, penurunan berat badan, kelelahan, hingga depresi dan gangguan saraf. Diagnosis dilakukan melalui tes serologi (anti-tTG IgA) dan biopsi usus halus.

4. Gangguan Autoimun Lain: Lupus, Hashimoto, dan Multiple Sclerosis
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa gluten dapat memperburuk gejala pada penderita gangguan autoimun lain seperti lupus, tiroiditis Hashimoto, dan multiple sclerosis.

Sebuah studi dalam Frontiers in Immunology (2021) menyebutkan bahwa gluten dapat meningkatkan permeabilitas usus (leaky gut), yang memungkinkan partikel asing masuk ke aliran darah dan memicu respons imun sistemik.

Meskipun belum ada konsensus ilmiah untuk merekomendasikan diet bebas gluten bagi semua penderita autoimun, banyak pasien melaporkan perbaikan gejala setelah menghindari gluten.

Data dan Fakta

- Sekitar 1 dari 100 orang di dunia menderita penyakit celiac (World Gastroenterology Organisation)
- 6–10% populasi global mengalami sensitivitas gluten non-celiac (NIH, 2020)
- 20–30% penderita gangguan autoimun melaporkan perbaikan gejala setelah menjalani diet bebas gluten (Autoimmune Protocol Research, 2022)
- Gluten ditemukan dalam lebih dari 70% produk olahan, termasuk saus, sereal, dan makanan ringan (FDA Food Labeling Guide)
- Studi Nutrients (2021) mencatat bahwa diet bebas gluten tanpa pengawasan dapat menyebabkan kekurangan serat, zat besi, vitamin B, dan magnesium.

Gluten bukanlah zat berbahaya bagi semua orang, namun bagi kelompok tertentu, dampaknya bisa sangat serius.

Penderita celiac, alergi gandum, dan gangguan autoimun harus menghindari gluten sepenuhnya untuk mencegah kerusakan organ dan komplikasi jangka panjang.

Bahkan bagi orang sehat, konsumsi gluten berlebihan dapat menimbulkan gejala ringan yang mengganggu kualitas hidup.

Namun, penting untuk dicatat bahwa diet bebas gluten tidak selalu lebih sehat. Menghindari gluten tanpa alasan medis dapat menyebabkan kekurangan nutrisi penting dan gangguan metabolisme. Oleh karena itu, keputusan untuk menjalani diet bebas gluten sebaiknya didasarkan pada diagnosis medis dan di bawah pengawasan ahli gizi.

Dengan meningkatnya kesadaran akan gluten, edukasi publik yang berbasis bukti ilmiah menjadi sangat penting.

Masyarakat perlu memahami bahwa tidak semua tren diet cocok untuk semua orang, dan pendekatan personal berbasis kondisi kesehatan tetap menjadi kunci utama dalam menjaga keseimbangan nutrisi dan kualitas hidup. (nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#autoimun #alergi gandum #gluten #gandum #celiac #alergi #kesehatan