Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Tubuh Sering Berkeringat Tanpa Sebab, Kenali Penyebab dan Solusinya

Muhammad Firman Syah • Senin, 13 Oktober 2025 | 18:23 WIB
Kenali penyebab keringat berlebih dan cara mengatasinya.
Kenali penyebab keringat berlebih dan cara mengatasinya.

Radar Surabaya – Pernah mengalami tubuh berkeringat deras padahal tidak sedang berolahraga atau berada di bawah terik matahari? Kondisi tersebut dikenal dengan istilah hiperhidrosis, yakni keadaan ketika tubuh memproduksi keringat secara berlebihan tanpa kebutuhan termal yang jelas.

Hiperhidrosis biasanya muncul di area tertentu seperti telapak tangan, kaki, ketiak, dan wajah. Meski bukan penyakit berbahaya, kondisi ini dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dan menurunkan kepercayaan diri, terutama dalam situasi sosial atau profesional.

Mengapa Hiperhidrosis Bisa Terjadi?

Secara alami, tubuh mengeluarkan keringat untuk menjaga suhu tetap stabil. Namun, pada penderita hiperhidrosis, kelenjar keringat bekerja terlalu aktif meskipun suhu tubuh dalam kondisi normal.

Secara medis, hiperhidrosis terbagi menjadi dua jenis utama,

Hiperhidrosis primer, terjadi akibat gangguan pada saraf pengatur kelenjar keringat dan bukan disebabkan oleh penyakit lain.

Hiperhidrosis sekunder, muncul sebagai gejala dari penyakit tertentu atau efek samping obat-obatan.

Beberapa kondisi medis yang dapat memicu keringat berlebih di antaranya diabetes, gangguan tiroid, menopause (hot flashes), gangguan sistem saraf, dan infeksi tertentu.

Cara Mengatasi Keringat Berlebih

Sebagian besar kasus hiperhidrosis termasuk kategori primer. Meski tidak membahayakan, kondisi ini dapat sangat mengganggu aktivitas harian, menyebabkan bau badan, hingga menurunkan rasa percaya diri.

Berikut beberapa cara untuk mengendalikan produksi keringat berlebih.

Gunakan Antiperspirant

Produk ini bekerja dengan menyumbat sementara saluran kelenjar keringat sehingga produksinya berkurang. Selain di ketiak, antiperspirant juga bisa digunakan di tangan atau kaki. Pemakaian rutin dapat mencegah bau badan akibat reaksi keringat dan bakteri.

Terapi Botox

Selain fungsi kosmetik, suntikan botulinum toxin atau botox juga efektif mengatasi hiperhidrosis. Botox bekerja dengan memblokir sinyal saraf yang memicu keringat berlebih. Efeknya bertahan beberapa bulan dan perlu diulang secara berkala.

Pengobatan Medis

Jika disebabkan penyakit tertentu, penanganan difokuskan pada sumbernya. Misalnya, pengaturan kadar gula darah bagi penderita diabetes atau terapi hormon untuk wanita yang mengalami menopause.

Tindakan Operasi

Untuk kasus berat yang tidak merespons pengobatan lain, dokter dapat merekomendasikan tindakan bedah, seperti Simpatektomi, yaitu pemotongan atau penjepitan saraf simpatis yang mengatur produksi keringat.

Pengangkatan kelenjar keringat di area yang terlalu aktif.

Salah satu inovasi terbaru dalam penanganan hiperhidrosis adalah Video-Assisted Thoracic Surgery (VATS) Simpatektomi, yakni prosedur bedah minimal invasif dengan sayatan kecil sekitar 3-4 sentimeter.

Melalui bantuan kamera mini, dokter dapat menjepit atau memotong saraf simpatis yang mengirimkan sinyal berlebih ke kelenjar keringat. Hasilnya, produksi keringat dapat dikontrol lebih efektif.

Keunggulan metode ini meliputi luka kecil dan pemulihan cepat, nyeri pascaoperasi minimal, risiko komplikasi rendah, tingkat keberhasilan tinggi, penelitian terkini menunjukkan bahwa VATS Simpatektomi kini menjadi standar emas (gold standard) dalam menangani hiperhidrosis berat secara aman dan efektif. (dta/fir)

Editor : M Firman Syah
#keringat #VATS #antiperspiran #bau badan #hiperhidrosis