RADAR SURABAYA - Aktivitas mendaki gunung kini bukan lagi sekadar hobi bagi pecinta alam. Di era media sosial dan gaya hidup sehat, naik gunung menjelma menjadi tren populer di kalangan anak muda Indonesia.
Sayangnya, fenomena Fear of Missing Out (FOMO) membuat banyak pendaki pemula nekat naik gunung tanpa persiapan memadai, memicu kekhawatiran soal keselamatan dan etika pendakian.
Tren mendaki gunung meningkat tajam sejak 2024, terutama di kalangan generasi muda yang ingin tampil eksis di media sosial.
Foto-foto puncak gunung, kabut pagi, dan tenda berlatarkan alam menjadi daya tarik visual yang mendorong banyak orang ikut-ikutan mendaki, meski tanpa pengalaman atau pengetahuan dasar tentang survival dan manajemen risiko.
Beberapa orang yang aktif mendaki, menyebut bahwa banyak rekannya mendaki demi konten, bukan karena kecintaan terhadap alam.
“Mereka hanya ingin punya foto di puncak, tapi tidak tahu cara membaca cuaca atau mengelola logistik,” ujar Septa, salah satu pendaki profesional.
Fenomena pendaki FOMO ini membawa sejumlah risiko serius. Banyak pendaki tidak membawa perlengkapan sesuai standar, seperti jaket tahan angin, , atau logistik air yang cukup, sehingga berisiko mengalami hipotermia dan dehidrasi.
Jalur pendakian yang terjal dan licin juga meningkatkan kemungkinan cedera fisik seperti jatuh, keseleo, atau patah tulang.
Minimnya pengetahuan navigasi dan tidak membawa peta atau GPS membuat pendaki mudah tersesat.
Selain itu, pendaki yang tidak memahami etika lingkungan sering meninggalkan sampah atau merusak vegetasi, dan jika terjadi kecelakaan, mereka kerap membebani tim SAR yang harus turun tangan menyelamatkan.
Pemerhati lingkungan dan komunitas pendaki menyarankan beberapa langkah untuk mengatasi tren FOMO ini.
Calon pendaki wajib mengikuti pelatihan dasar survival, navigasi, dan etika lingkungan. Gunung-gunung yang dibuka untuk umum juga harus menerapkan sistem registrasi dan pengecekan perlengkapan.
Influencer dan komunitas outdoor perlu mengedukasi followers bahwa mendaki bukan sekadar gaya hidup, tapi aktivitas berisiko tinggi yang butuh tanggung jawab.
Tren naik gunung di kalangan muda memang membawa dampak positif dalam hal kesehatan dan apresiasi terhadap alam.
Namun, jika dilakukan hanya karena FOMO dan tanpa persiapan, aktivitas ini bisa berubah menjadi ancaman keselamatan.
Edukasi, regulasi, dan kesadaran kolektif menjadi kunci agar pendakian tetap menjadi pengalaman yang aman dan bermakna. (nur)
Editor : Nurista Purnamasari