Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Langit Indonesia Dihiasi Hujan Meteor, Inilah Fenomena Alam yang Bisa Disaksikan Tanpa Teleskop

Muhammad Firman Syah • Minggu, 12 Oktober 2025 | 19:24 WIB
Ilustrasi fenomena hujan meteor.
Ilustrasi fenomena hujan meteor.

Radar Surabaya – Langit malam kerap memukau dengan keindahan yang tak lekang waktu. Di antara bintang-bintang yang berkelap-kelip, sesekali muncul kilatan cahaya cepat menyerupai bintang jatuh. Namun, pada malam tertentu, kilatan itu muncul beruntun dari arah yang sama, menciptakan panorama langit seolah dipenuhi percikan api. Fenomena alam ini dikenal sebagai hujan meteor, pertunjukan langit yang dapat disaksikan tanpa teleskop, bahkan dari halaman rumah.

Hujan meteor terjadi ketika partikel batuan atau debu luar angkasa memasuki atmosfer bumi hampir bersamaan dan terbakar akibat gesekan udara. Puing-puing tersebut berasal dari jejak debu komet atau pecahan asteroid yang tertinggal di orbit matahari. Saat bumi melintasi jalur tersebut, partikel-partikel itu tertarik gravitasi dan masuk ke atmosfer dengan kecepatan 11–72 kilometer per detik.

Gesekan dengan udara membuat suhu partikel melonjak hingga ribuan derajat Celsius, menyebabkan pijaran terang yang tampak dari bumi sebagai meteor. Bila jumlahnya banyak dan tampak berasal dari satu titik (titik radian), maka terjadilah hujan meteor.

Menurut Thomas Djamaluddin, peneliti Pusat Riset Antariksa BRIN, fenomena ini sepenuhnya aman.

“Sama sekali tidak berdampak bagi bumi. Hujan meteor adalah peristiwa tahunan yang menjadi sarana edukasi tentang aktivitas benda langit,” ujarnya.

Fenomena ini berawal dari aktivitas komet atau asteroid yang mengelilingi matahari. Setiap kali melintas, benda langit tersebut meninggalkan jejak debu di orbitnya. Saat bumi berada di jalur itu, partikel debu masuk ke atmosfer dan terbakar, menimbulkan kilatan cahaya yang disebut meteor.

Kebanyakan meteor terbakar di ketinggian 80–120 kilometer dari permukaan bumi. Namun, sebagian kecil yang tak sepenuhnya terbakar dapat jatuh ke tanah dan disebut meteorit. Meteorit ini menjadi objek penting dalam penelitian geologi antariksa karena mengandung unsur kimia dari luar bumi.

Nama hujan meteor diambil dari rasi bintang tempat asal cahaya meteornya.

Sepanjang tahun, terdapat beberapa fenomena utama, di antaranya, Perseid, berasal dari komet Swift-Tuttle, muncul setiap Agustus dari rasi Perseus. Ada pula Geminid, dari asteroid 3200 Phaethon, muncul pada Desember dengan warna beragam, putih, biru, merah, dan hijau.

Leonid, dari komet Tempel-Tuttle, terjadi setiap November dan dikenal dengan kecepatannya tinggi. Orionid, dari komet Halley, terlihat pada Oktober–November dengan cahaya kehijauan. Eta Aquarid dan Delta Aquarid, juga dari komet Halley, dapat disaksikan dari wilayah tropis seperti Indonesia pada Mei dan Juli. Kemudian juga terdapat Quadrantid, dari komet 2003 EH1, muncul pada awal Januari dengan kilatan biru keputihan.

Fenomena-fenomena ini terjadi periodik, mengikuti jalur orbit bumi yang melintasi sisa debu komet setiap tahun.

Indonesia berulang kali menjadi saksi keindahan hujan meteor. Salah satunya adalah Eta Aquarid yang terjadi pada 5–6 Mei 2024, berasal dari komet legendaris Halley.

Menurut pengamat dari Ekliptika Institute, Marufin Sudibyo, “Meteornya bersumber dari butir debu yang dilepaskan komet Halley. Fenomena ini adalah bukti nyata bahwa tata surya bergerak mengelilingi matahari.”

Dalam kondisi langit cerah, fenomena ini bisa dilihat tanpa alat bantu, dengan sekitar 60 meteor per jam melintas cepat di langit timur menjelang fajar.

Selain Eta Aquarid, masyarakat Indonesia juga dapat menantikan hujan meteor Perseid setiap pertengahan Agustus. BRIN mencatat puncaknya pada (12/8) dan (13/10) akan menjadi salah satu yang paling menarik, meski sedikit terganggu oleh cahaya bulan pasca purnama.

“Fenomena ini aman dan bisa dinikmati dengan mata telanjang. Waktu terbaiknya menjelang fajar di arah timur laut,” kata Thomas Djamaluddin.

Pada akhir tahun, hujan meteor Geminid juga rutin menghiasi langit Indonesia. Pada 13–14 Desember 2024, BRIN mencatat lebih dari 100 meteor per jam dapat terlihat, meski cahaya bulan purnama cukup terang.

Wilayah seperti Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, dan pesisir selatan Jawa menjadi lokasi ideal untuk pengamatan karena langitnya relatif gelap dan minim polusi cahaya.

Meteor jatuh adalah peristiwa tunggal dari satu meteoroid yang memasuki atmosfer secara acak, sedangkan hujan meteor melibatkan banyak meteoroid yang masuk hampir bersamaan karena bumi melintasi jalur debu komet. Hujan meteor dapat diprediksi waktunya, berbeda dengan meteor jatuh yang muncul tanpa pola tertentu.

Fenomena ini mengingatkan bahwa ruang angkasa bukanlah ruang kosong, melainkan dipenuhi jutaan partikel yang terus bergerak mengelilingi matahari.

Untuk menikmati hujan meteor, masyarakat tidak memerlukan teleskop atau kamera khusus. Cukup mencari lokasi terbuka, jauh dari cahaya kota, dan pastikan cuaca cerah.
Waktu terbaik pengamatan adalah antara tengah malam hingga sebelum fajar.

Tips dari BRIN yakni, dengan matikan sumber cahaya seperti ponsel agar mata beradaptasi dengan kegelapan, pandang langit tanpa halangan bangunan atau pepohonan dan tunggu 20 menit agar mata terbiasa dengan kegelapan.

Dengan kondisi ideal, fenomena ini bisa disaksikan di berbagai wilayah Indonesia, terutama di pedesaan, pantai, atau dataran tinggi.

Bagi ilmuwan, hujan meteor menjadi jendela pengetahuan tentang tata surya. Komposisi debu yang terbakar di atmosfer memberi petunjuk tentang unsur kimia pembentuk komet, sementara orbitnya membantu memahami dinamika benda langit di sekitar bumi.

Namun, bagi masyarakat umum, fenomena ini juga menyimpan makna filosofis, pengingat bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari sistem kosmik yang luas. Seperti kilatan meteor yang singkat namun indah, peristiwa ini merefleksikan perjalanan waktu dan keabadian alam semesta. (wid/fir)

Editor : M Firman Syah
#fenomena alam #meteor #teleskop #luar angkasa #hujan meteor