Surabaya - Pakar saraf Indonesia, Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S, mengungkap sejumlah kebiasaan yang tanpa disadari dapat mempercepat penyusutan otak, bahkan pada usia muda. Fenomena ini patut diwaspadai karena dapat meningkatkan risiko gangguan kognitif, seperti mudah lupa hingga demensia di kemudian hari.
Menurut Prof Yuda, secara alami otak akan menyusut sekitar satu persen setiap tahun setelah usia 50 tahun. Namun, gaya hidup tidak sehat dan faktor lingkungan tertentu dapat mempercepat proses tersebut.
“Kalau seseorang mulai merasa ‘kok jadi sering lupa dari biasanya’, atau orang lain melihat perubahan tersebut, itu bisa menjadi tanda awal penyusutan otak,” jelasnya.
1. Hipertensi dan Gula Darah Tinggi Jadi Faktor Utama
Salah satu pemicu terbesar penyusutan otak adalah hipertensi yang tidak terkontrol. Berdasarkan data nasional, sekitar 30 persen penduduk Indonesia mengalami tekanan darah tinggi, dan sebagian besar tidak menyadarinya.
“Tekanan darah tinggi yang dibiarkan bisa merusak pembuluh darah otak dan mempercepat penyusutan jaringan otak,” kata Prof Yuda.
Hal serupa terjadi pada penderita diabetes atau kadar gula darah tinggi.
“Kadar gula yang tinggi selama satu dekade bisa memicu pengerutan otak. Karena itu, kurangi makanan manis dan karbohidrat berlebih,” tegasnya.
2. Kesepian dan Stres Tingkatkan Risiko Dua Kali Lipat
Tak hanya faktor fisik, kesehatan mental juga berperan besar terhadap kondisi otak. Stres, kecemasan, dan kesepian kronis terbukti meningkatkan risiko otak menyusut hingga dua sampai tiga kali lipat.
“Kesepian bukan hanya karena tinggal sendiri, tapi juga perasaan terasing dan tidak dihargai. Kondisi ini meningkatkan risiko kepikunan dan penyusutan otak,” ujar Prof Yuda.
3. Kurang Aktivitas Fisik Sama Bahayanya dengan Obesitas
Gaya hidup sedentari atau kurang gerak menjadi ancaman serius bagi kesehatan otak. Meskipun memiliki berat badan ideal, seseorang yang jarang beraktivitas fisik memiliki risiko penyusutan otak yang setara dengan mereka yang obesitas.
“Kalau tidak pernah bergerak, duduk lama, itu sama berbahayanya. Aktivitas fisik rutin penting untuk menjaga kesehatan otak,” ujarnya.
4. Polusi Cahaya Ganggu Fungsi Otak
Faktor lain yang sering diabaikan adalah polusi cahaya. Paparan berlebihan terhadap cahaya buatan di malam hari serta kurangnya paparan sinar matahari di siang hari dapat mengganggu ritme alami tubuh.
“Tubuh kita diciptakan dengan ritme alami, malam gelap untuk tidur, siang terang untuk aktivitas. Tapi sekarang malah terbalik malam hari terang benderang karena gadget dan lampu,” tutur Prof Yuda.
Sebagai langkah pencegahan, Prof Yuda mengimbau masyarakat untuk memperbaiki pola hidup dengan cara rutin memeriksa tekanan darah dan kadar gula, menjaga kesehatan mental, memperbanyak aktivitas fisik, serta menerapkan pola tidur yang seimbang.
Dengan langkah sederhana tersebut, fungsi otak dapat tetap optimal hingga usia lanjut.
(wid/fir)