Surabaya - Fenomena berbagi cerita kepada orang asing kini semakin populer di kalangan anak muda dan pekerja perkotaan. Tak sedikit yang merasa lebih nyaman membuka diri kepada seseorang yang baru dikenal, bahkan rela membayar layanan seperti “teman curhat” atau “teman jalan” agar dapat bercerita tanpa takut dihakimi.
Psikolog klinis Yustinus Joko Dwi Nugroho, M.Psi., menjelaskan bahwa kecenderungan ini bukan tanpa alasan.
“Orang cenderung merasa lebih aman berbagi dengan orang asing karena tidak ada riwayat emosional atau subjektivitas dari masa lalu. Mereka bisa bercerita apa saja tanpa takut dinilai,” ujarnya.
Menurut Joko, faktor privasi dan rasa aman menjadi alasan utama seseorang memilih bercerita kepada orang yang tidak dikenal. Dalam hubungan dekat, seperti dengan sahabat atau anggota keluarga, sering kali terdapat ekspektasi, penilaian, dan kenangan masa lalu yang memengaruhi respons pendengar. Akibatnya, nasihat yang diberikan bisa dipengaruhi oleh bias atau pengalaman pribadi, sehingga tidak benar-benar objektif.
“Ketika curhat dengan orang yang belum dikenal, semua bersifat baru dan netral. Tidak ada beban sejarah, sehingga seseorang bisa lebih terbuka dan jujur tentang perasaan mereka,” ungkapnya.
Selain menghadirkan rasa aman, curhat kepada orang asing juga memberikan validasi emosional, yakni bentuk penerimaan tanpa penilaian yang kerap sulit diperoleh dari lingkungan terdekat.
“Orang yang menggunakan layanan ini atau curhat pada orang asing biasanya ingin didengar, divalidasi perasaannya dan merasakan pengakuan tanpa komentar subjektif dari orang yang mereka kenal,” tambah Joko.
Dalam perspektif psikologi, validasi berperan penting bagi kesehatan mental seseorang. Interaksi yang mengandung unsur penerimaan dan empati terbukti mampu membantu meredakan stres, menurunkan tingkat kecemasan, serta mengurangi rasa kesepian meskipun hanya bersifat sementara.
Namun demikian, Joko menegaskan bahwa kebiasaan ini termasuk coping instan, atau strategi penanganan emosional jangka pendek. Meskipun bisa memberikan rasa nyaman sesaat, curhat kepada orang asing bukan solusi permanen untuk mengatasi kesepian atau masalah psikologis yang mendalam.
Jika dibiarkan berlarut, kecemasan atau kesepian dapat menimbulkan dampak fisik, seperti menurunnya kualitas tidur, melemahnya sistem imun, hingga meningkatnya risiko penyakit. Oleh sebab itu, Joko menyarankan agar setiap individu berupaya membangun hubungan yang sehat dengan orang terdekat dan mempertimbangkan bantuan profesional bila diperlukan. (bil/fir)
Editor : M Firman Syah