Radar Surabaya – Tak banyak yang tahu, saus tomat yang kini menjadi pelengkap berbagai hidangan ternyata tidak berawal dari buah tomat. Jejak awal saus ini justru ditemukan ribuan tahun lalu di Asia Timur, tepatnya pada masa Kekaisaran Tiongkok. Kala itu, saus dibuat dari fermentasi ikan dan kedelai yang dikenal dengan nama ke-tsiap saus asin beraroma tajam yang kemudian menyebar ke dunia Barat melalui jalur perdagangan internasional.
Memasuki abad ke-18, para pelaut Inggris membawa resep ke-tsiap ke Eropa dan mulai melakukan berbagai modifikasi. Mereka mengganti bahan dasar ikan dengan jamur, kenari, hingga buah-buahan. Baru pada tahun 1812, ilmuwan asal Philadelphia bernama James Mease memperkenalkan versi baru saus ini dengan bahan utama tomat segar, yang kemudian dikenal sebagai tomato ketchup.
Sebelum inovasi tersebut, tomat justru dianggap beracun di Inggris dan Amerika. Kandungan asam tomat yang bereaksi dengan piring timah diduga menyebabkan keracunan timbal, sehingga buah ini sempat dihindari. Namun, seiring perkembangan ilmu pengetahuan, anggapan itu memudar, dan tomat mulai dihargai karena cita rasanya yang khas serta manfaat kesehatannya.
Menariknya, pada 1830-an, saus tomat bahkan pernah diklaim sebagai obat mujarab. Seorang dokter bernama John Cook Bennett mempromosikannya sebagai “penyembuh segala penyakit,” mulai dari diare hingga kolera. Klaim tersebut memunculkan tren “pil tomat” di Amerika Serikat, meski kemudian terbukti hanya sebagai strategi pemasaran belaka.
Popularitas saus tomat semakin meningkat setelah Henry J. Heinz memperkenalkan kemasan botol bening pada tahun 1876. Ia ingin para pembeli dapat melihat langsung warna segar sausnya, yang sekaligus menjadi tonggak lahirnya industri saus modern.
Sejak saat itu, ketchup berevolusi dari ramuan herbal menjadi bumbu wajib yang hadir di dapur-dapur dunia menemani kentang goreng, burger, hingga nasi goreng di meja makan masyarakat Indonesia.
Kini, setiap tetes saus tomat menyimpan kisah panjang perjalanan budaya dan kuliner, dari fermentasi ikan di Asia, hingga menjadi ikon rasa global di abad modern. Dari meja Kaisar Tiongkok hingga rak supermarket masa kini, saus tomat menjadi bukti bahwa rasa mampu melampaui zaman dan batas budaya. (mer/fir)
Editor : M Firman Syah