Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Fenomena Gen Z Oversharing, Ketika Media Sosial Berubah Menjadi Buku Harian Terbuka

Muhammad Firman Syah • Senin, 6 Oktober 2025 | 17:00 WIB
Gen z oversharing.
Gen z oversharing.

Radar Surabaya – Media sosial kini menjelma menjadi ruang publik utama bagi generasi Z. Platform seperti TikTok, Instagram, X (Twitter) dan Threads digunakan untuk berbagai aspek kehidupan, mulai dari hiburan hingga curahan pribadi. Bagi Gen Z, media sosial bukan sekadar alat komunikasi, melainkan “buku harian digital” yang terbuka bagi siapa pun.

Fenomena yang mengemuka dari kebiasaan tersebut adalah oversharing, yakni tindakan membagikan terlalu banyak informasi pribadi di ruang digital. Tren ini semakin marak di kalangan anak muda, meliputi curahan hati tentang masalah keluarga, kesehatan mental, hingga detail kehidupan pribadi yang seharusnya bersifat tertutup.

Menurut National Library of Medicine, oversharing dipicu oleh kecemasan, kebutuhan akan validasi, serta ketergantungan terhadap media sosial. Faktor-faktor sosial dan psikologis turut memperkuat kecenderungan ini di kalangan Gen Z.

Pencarian Validasi Sosial

Di era digital, jumlah like, komentar, dan share sering dijadikan ukuran penerimaan sosial. Tak sedikit Gen Z melakukan oversharing di platform seperti Instagram Stories demi memperoleh pengakuan dan mempertahankan eksistensi di dunia maya.

Minimnya Kesadaran Privasi

Banyak pengguna muda belum memahami risiko permanennya jejak digital. Informasi pribadi yang dibagikan secara terbuka dapat disalahgunakan atau berdampak negatif di masa depan, termasuk pada reputasi dan keamanan data.

Budaya Autentisitas

Generasi Z mengedepankan kejujuran dan keterbukaan sebagai nilai utama dalam berinteraksi. Menurut The Guardian, mereka lebih memilih menampilkan diri apa adanya daripada berpura-pura demi menjaga citra.

FOMO (Fear of Missing Out)

Ketakutan tertinggal tren membuat Gen Z merasa perlu terus memperbarui unggahan agar tetap relevan dan dianggap up to date.

Meski oversharing memiliki sisi positif, seperti menumbuhkan solidaritas saat seseorang membagikan kisah perjuangan kesehatan mental, kebiasaan ini juga membawa risiko serius. Data pribadi yang tersebar dapat dimanfaatkan untuk doxing, penipuan, bahkan mengancam keamanan diri.

Laporan Social Media and Youth Mental Health mencatat, penggunaan media sosial lebih dari tiga jam per hari dapat meningkatkan risiko depresi dan kecemasan pada remaja.

Fenomena oversharing menjadi tantangan baru dalam literasi digital yang perlu disadari generasi muda. Gen Z diimbau untuk lebih selektif dalam berbagi, memahami audiens, dan mempertimbangkan dampak setiap unggahan.

Media sosial tetap menjadi sarana penting untuk membangun koneksi. Namun tanpa batasan yang sehat, ruang digital bisa menjadi bumerang. Menyaring apa yang perlu dibagikan dan menyimpan sebagian cerita untuk diri sendiri merupakan langkah bijak melindungi privasi di era keterbukaan. (bil/fir)

Editor : M Firman Syah
#media sosial #oversharing #buku harian #Digital #Gen Z