Radar Surabaya – Teh dikenal sebagai minuman kaya antioksidan yang menenangkan. Namun, cara konsumsi yang keliru justru dapat menimbulkan gangguan pada sistem pencernaan. Hal ini diungkapkan oleh dr. Saurabh Sethi, ahli gastroenterologi lulusan Stanford dan Harvard.
Menurutnya, terdapat sejumlah kebiasaan umum dalam mengonsumsi teh yang berpotensi merusak kesehatan usus jika dilakukan terus-menerus. Berikut enam kebiasaan yang perlu dihindari.
Minum Teh Saat Perut Kosong
dr. Sethi menjelaskan, mengonsumsi teh sebelum sarapan dapat berdampak buruk pada lambung. Setelah tubuh berpuasa semalaman, kondisi lambung masih bersifat asam. Jika pada saat ini teh diminum, kandungan kafein dan tanin di dalamnya dapat memicu peningkatan produksi asam lambung.
"Kombinasi ini dapat menyebabkan asam lambung naik, kembung, dan iritasi pada lapisan usus," ungkap dr. Sethi.
Kebiasaan tersebut, jika dilakukan berulang, dapat menyebabkan peradangan kronis yang merusak mukosa usus serta mengganggu penyerapan nutrisi. Teh sebelum makan juga berpotensi memicu kecemasan dan menurunkan energi. Karena itu, teh sebaiknya dikonsumsi setelah makan.
Menambahkan Gula Berlebihan
Menambahkan gula secara berlebihan menjadi kebiasaan umum yang berdampak negatif terhadap keseimbangan mikrobiota usus. dr. Sethi menyebut, kelebihan gula menciptakan lingkungan yang ideal bagi pertumbuhan bakteri jahat di saluran pencernaan.
"Gula menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan bakteri berbahaya di saluran pencernaan," sebutnya.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memicu perut kembung, sembelit, disbiosis usus, hingga meningkatkan risiko obesitas dan diabetes. Selain itu, kandungan antioksidan dalam teh juga berkurang ketika terlalu banyak gula ditambahkan.
Mengonsumsi Teh Detoks atau Pelangsing
Produk teh detoks dan pelangsing sering diklaim mampu menurunkan berat badan dalam waktu singkat. Namun, dr. Sethi mengingatkan bahwa produk tersebut umumnya mengandung laksatif, kafein, dan herbal tertentu yang dapat mengiritasi saluran pencernaan.
"Kandungan laksatif, kafein, dan herbal tertentu bisa menyebabkan iritasi usus, sakit perut, diare, hingga dehidrasi," paparnya.
Efek laksatif memang memberikan kesan usus menjadi bersih, tetapi penggunaan jangka panjang justru dapat merusak fungsi alami usus dan mikrobiota di dalamnya. Karena itu, teh detoks sebaiknya tidak dikonsumsi secara rutin.
Mengonsumsi Ekstrak Teh Hijau Secara Berlebihan
Teh hijau dikenal mengandung polifenol yang baik untuk pertumbuhan bakteri baik dalam usus. Jika dikonsumsi dalam bentuk ekstrak secara berlebihan, dapat menimbulkan efek samping seperti mual, diare dan gangguan lambung.
"Kandungan kafein dan tanin di dalamnya juga bisa memperburuk masalah pencernaan," ujar dr. Sethi.
Untuk menjaga keseimbangan tubuh, konsumsi teh hijau disarankan tidak lebih dari tiga hingga empat cangkir per hari, atau lebih sedikit bagi individu yang sensitif terhadap kafein.
Minum Teh Terlalu Panas
Mengonsumsi teh pada suhu di atas 60°C berpotensi merusak lapisan esofagus dan lambung. Suhu ekstrem dapat memicu peradangan serta iritasi pada jaringan mukosa.
Paparan cairan panas secara berulang juga dapat melukai tenggorokan dan mulut serta membuat jaringan lebih rentan terhadap zat berbahaya. Karena itu, sebaiknya teh diminum dalam suhu hangat yang nyaman, bukan mendidih.
Minum Teh di Malam Hari
Kandungan kafein dalam teh, baik hitam maupun hijau, dapat mengganggu kualitas tidur jika dikonsumsi malam hari. Gangguan tidur tersebut turut berpengaruh terhadap kesehatan usus.
"Kafein malam hari juga meningkatkan produksi asam lambung, memperburuk refluks asam dan gangguan pencernaan saat tidur," jelas dr. Sethi.
Sebagai alternatif, dr. Sethi menyarankan teh herbal tanpa kafein yang bersifat menenangkan dan tidak mengganggu fungsi pencernaan. (mel/fir)
Editor : M Firman Syah