Surabaya – Fenomena jasa teman jalan kian marak di masyarakat urban. Melalui berbagai platform digital, seseorang dapat menyewa pendamping untuk aktivitas ringan, mulai dari jalan-jalan, nongkrong di kafe, hingga menghadiri acara sosial. Layanan ini semakin diminati di kota besar, terutama di tengah maraknya kesepian dan keterbatasan interaksi sosial.
Psikolog Klinis Yustinus Joko Dwi Nugroho, M.Psi., menilai tren ini merupakan mekanisme psikologis untuk mengatasi rasa sepi. Menurutnya, jasa teman jalan dapat dikategorikan sebagai bentuk coping instan.
"Banyak orang merasa lebih aman ketika menggunakan jasa ini karena aturannya jelas, sifatnya formal, dan ada batasan yang disepakati sejak awal. Mereka bisa mendapat teman jalan tanpa harus takut dinilai atau terbebani emosi seperti dalam relasi pertemanan biasa," ujar Joko.
Ia menyebut ada beberapa motivasi di balik penggunaan layanan ini, antara lain kebutuhan akan rasa aman dan privasi, keinginan berbagi cerita kepada sosok netral, serta menghindari kecanggungan sosial.
"Kadang justru lebih nyaman curhat ke orang asing, karena keluarga atau teman dekat bisa punya subjektivitas tertentu berdasarkan pengalaman masa lalu," tambahnya.
David (32), pemilik layanan Gue Temenin Jalan, mengungkapkan mayoritas kliennya adalah perempuan. Hal ini sejalan dengan analisis Joko yang menyebut bahwa perempuan merasa lebih aman menggunakan jasa dengan aturan formal dan kontrak yang jelas.
"Dalam layanan formal, ada struktur dan aturan yang jelas. Kalau ada masalah, lebih mudah dilacak. Itu memberi rasa aman tambahan, terutama bagi perempuan," jelas Joko.
Efek Instan, Bukan Solusi Permanen
Meski mampu memberikan kenyamanan sementara, Joko menegaskan layanan ini tidak menyentuh akar persoalan kesepian.
"Ini bisa mengurangi rasa sepi sementara, tapi tidak menyelesaikan akar masalah. Kalau kesepian dibiarkan terus-menerus, bisa berisiko pada stres, kecemasan, bahkan depresi," ujarnya.
Kesepian kronis, lanjutnya, dapat berdampak pada kesehatan fisik, termasuk gangguan tidur, penurunan imunitas, hingga peningkatan risiko penyakit tertentu.
Menurut Joko, kebutuhan utama manusia tetap terletak pada hubungan interpersonal yang autentik dan berkelanjutan.
"Kalau ada masalah kepercayaan atau kesulitan membangun relasi dengan orang terdekat, itu yang seharusnya dicari solusinya. Jasa ini bisa jadi pilihan sesaat, tapi bukan jalan keluar permanen," tegasnya.
Fenomena ini sekaligus mencerminkan dinamika sosial perkotaan yang kian individualistis. Pola hidup serba cepat, tekanan sosial, serta meningkatnya stres turut mendorong angka kesepian di masyarakat.
"Pada akhirnya, rasa aman dan validasi paling sehat datang dari hubungan yang tulus, bukan yang instan," tutup Joko. (mel/fir)
Editor : M Firman Syah