Jakarta – Buah delima tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga menyimpan berbagai manfaat kesehatan. Tumbuhan ini tumbuh subur di wilayah beriklim kering, seperti Iran, India, Turki dan Mesir.
"Sejak meningkatnya penelitian yang menghubungkan antioksidan delima dengan berbagai potensi manfaat, (buah ini) jelas mengalami peningkatan popularitas yang besar," kata ahli gizi May Zhu, RDN, LDN, dikutip dari Women’s Health.
Secara ilmiah, delima dikategorikan sebagai buah beri. Setiap buah dapat berisi hingga 600 aril atau biji yang bisa dimakan, bercita rasa manis sekaligus asam. Buah musiman ini biasanya hadir pada musim gugur hingga musim dingin dan sering digunakan sebagai campuran salad maupun olahan berbahan biji-bijian.
Selain memperindah sajian dengan warna merah khasnya, delima juga digolongkan sebagai superfood berkat kandungan nutrisinya yang kaya. Polifenol dalam buah ini berperan sebagai antioksidan kuat untuk melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas yang berhubungan dengan peradangan, penuaan, hingga kanker. Ahli gizi Patricia Bannan, RDN, penulis Eat Right When The Time Is Right, menuturkan bahwa kandungan antioksidan delima bahkan lebih tinggi dibandingkan teh hijau. Delima juga kaya kalium yang penting untuk fungsi otot.
Dalam satu cangkir aril delima, terkandung 144 kalori, 2 gram lemak, 33 gram karbohidrat, 24 gram gula alami, serta 7 gram serat. Meski kadar gula alaminya relatif tinggi dibandingkan buah seperti raspberry, serat yang dimilikinya membantu menjaga kestabilan gula darah.
Kombinasi rasa manis, asam dan serat menjadikan delima sebagai pilihan camilan sehat sekaligus mengenyangkan. Khasiatnya juga terbukti mendukung kesehatan jantung dengan menurunkan tekanan darah, menekan kolesterol LDL, serta memperbaiki aliran darah arteri.
Menurut Zhu, "Beberapa penelitian menyebutkan bahwa jus delima setiap hari dapat membantu menurunkan tekanan darah dengan mengurangi kolesterol LDL dan memperbaiki aliran darah melalui arteri."
Selain itu, delima diyakini bermanfaat bagi fungsi otak. Kandungan antioksidannya dapat mengurangi kerusakan sel akibat radikal bebas. Sejumlah penelitian bahkan menunjukkan konsumsi delima dapat meningkatkan fungsi kognitif jangka pendek, terutama pada kelompok usia paruh baya hingga lanjut.
Efek anti-inflamasi dari delima juga berkhasiat bagi penderita radang sendi dengan membantu mengurangi pembengkakan. Kandungan seratnya pun mendukung kesehatan pencernaan sekaligus menekan peradangan pada usus. Namun, konsumsi delima tetap perlu dibatasi, khususnya bagi penderita diabetes, karena kandungan gula alaminya cukup tinggi. Zhu juga mengingatkan bahwa buah ini dapat memengaruhi enzim usus CYP3A4 dan CYP2C9, sebagaimana grapefruit, sehingga berpotensi mengubah penyerapan obat.
Delima juga kerap dijadikan bagian dari program diet. Setengah cangkir aril hanya mengandung kurang dari 100 kalori, rendah lemak, dan tinggi serat sehingga memberi rasa kenyang lebih lama. Jus delima tanpa tambahan gula bisa menjadi alternatif sehat, meski konsumsi aril utuh memberikan manfaat ekstra berkat seratnya.
Untuk mendapatkan kualitas terbaik, pilih buah delima yang terasa berat dengan kulit mulus tanpa noda. Delima segar dapat bertahan hingga dua minggu pada suhu ruang atau satu bulan di dalam lemari es. Sementara itu, aril yang sudah dipisahkan bisa disimpan hingga tujuh hari dalam wadah tertutup rapat. Dengan penyimpanan yang tepat, delima bisa dinikmati sebagai camilan sehat maupun pelengkap menu sehari-hari. (ris/fir)
Editor : M Firman Syah