Surabaya – Sejumlah penelitian mengungkapkan keterampilan menulis tangan di kalangan generasi Z mengalami penurunan signifikan. Evidence Network mencatat sekitar 40 persen generasi Z tidak lagi memiliki kemampuan menulis tangan yang efektif. Peralihan ke perangkat digital seperti ponsel pintar, komputer dan tablet membuat penggunaan pena dan kertas semakin terpinggirkan.
Aktivitas yang dahulu identik dengan menulis tangan, mulai dari mencatat pelajaran, membuat daftar, hingga menulis surat, kini lebih banyak digantikan aplikasi catatan, pesan singkat, maupun media sosial.
Laporan Evidence Network menunjukkan banyak mahasiswa kesulitan menyusun kalimat panjang atau esai koheren ketika harus menulis manual. Sebagian bahkan hadir di kelas tanpa membawa alat tulis, hanya mengandalkan laptop atau ponsel.
Menurut The Independent Singapore, hilangnya keterampilan menulis tangan tidak hanya berdampak pada estetika, tetapi juga mengurangi kualitas komunikasi yang lebih personal. Tulisan tangan diyakini menyimpan nilai emosional yang sulit tergantikan oleh teks digital. Setiap goresan pena dianggap mencerminkan kepribadian penulis nuansa yang hilang ketika kata hanya diketik di layar.
Profesor Nedret Kiliceri dalam laporan Evidence Network menegaskan bahwa gaya komunikasi singkat di media sosial telah memengaruhi cara mahasiswa menata pikiran. Kalimat pendek, singkatan, hingga emoji kini lebih sering dipakai dibanding uraian panjang dan reflektif.
“Tulisan tangan yang dulu jadi keterampilan dasar kini seolah asing bagi banyak mahasiswa,” ujarnya.
Kendati demikian, sebagian kalangan menilai fenomena ini bukan sekadar kemunduran, melainkan evolusi komunikasi. Generasi Z dinilai menciptakan bentuk interaksi baru yang sesuai zamannya, seperti voice note, video pendek, dan simbol visual. Bentuk komunikasi digital ini tetap ekspresif, meski berbeda dari tradisi menulis tangan. Pertanyaan yang muncul, apakah bentuk baru ini mampu memberi manfaat kognitif setara dengan tulisan manual?
Para pakar menegaskan dunia pendidikan tetap perlu memberi ruang bagi keterampilan menulis tangan. Aktivitas menulis menggunakan pena dinilai penting untuk perkembangan otak anak, melatih pemahaman, sekaligus membangun kesabaran.
Beberapa sekolah telah menerapkan sistem hybrid, yakni siswa tetap belajar mengetik, namun diwajibkan menulis tangan pada latihan tertentu.
Fenomena ini memperlihatkan tren global, bukan sekadar persoalan lokal. Generasi Z di berbagai negara menghadapi dilema yang sama, semakin mahir dalam komunikasi digital, namun perlahan meninggalkan salah satu keterampilan tertua dalam peradaban manusia. (ris/fir)
Editor : M Firman Syah