RADAR SURABAYA - Ketan atau beras ketan adalah bahan pangan populer di Indonesia, sering disajikan dalam bentuk jajanan tradisional seperti lemper, lupis, dan wajik.
Teksturnya yang lengket dan rasanya yang gurih membuatnya disukai banyak orang, termasuk anak-anak.
Namun, bagi balita, konsumsi ketan secara berlebihan bisa menimbulkan risiko kesehatan yang tidak disadari oleh orang tua.
Meski ketan mengandung karbohidrat dan energi tinggi, sistem pencernaan balita yang belum sempurna membuat makanan ini kurang ideal jika diberikan terlalu sering.
Kandungan Gizi Ketan dan Potensi Risikonya
Ketan mengandung karbohidrat kompleks, sedikit protein, dan hampir tidak mengandung serat atau mikronutrien penting seperti vitamin dan mineral. Meskipun bebas gluten, ketan memiliki kandungan amilopektin tinggi yang membuatnya lebih lengket dan sulit dicerna, terutama oleh anak usia dini.
Bahaya Memberikan Ketan Terlalu Sering pada Balita
1. Gangguan Pencernaan
Tekstur lengket ketan dapat memperlambat proses pencernaan dan menyebabkan balita mengalami kembung, sembelit, atau bahkan muntah jika dikonsumsi dalam jumlah besar.
2. Risiko Kekurangan Gizi
Ketan rendah serat dan mikronutrien. Jika dijadikan makanan utama secara rutin, balita berisiko kekurangan zat gizi penting seperti vitamin A, D, zat besi, dan kalsium yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang.
3. Beban Kalori Berlebih
Ketan memiliki kalori tinggi namun tidak seimbang dengan kebutuhan gizi balita. Konsumsi berlebihan dapat menyebabkan kelebihan energi tanpa dukungan nutrisi yang cukup, berpotensi memicu obesitas dini.
4. Potensi Alergi atau Sensitivitas
Beberapa anak bisa mengalami reaksi alergi terhadap makanan lengket atau fermentasi ketan, seperti ruam, diare, atau gangguan pernapasan ringan.
5. Gangguan Pola Makan
Memberikan ketan terlalu sering bisa membuat anak menolak makanan lain yang lebih bergizi karena terbiasa dengan rasa gurih dan tekstur ketan yang dominan.
Rekomendasi Konsumsi Ketan untuk Balita
Usia ideal: Setelah 1 tahun, dan hanya sebagai selingan
Frekuensi: Maksimal 1–2 kali seminggu
Porsi: Kecil, dikombinasikan dengan lauk bergizi seperti telur, ayam, atau sayur
Pantau reaksi tubuh: Perhatikan apakah anak mengalami gangguan pencernaan setelah konsumsi
Ketan bukanlah makanan berbahaya, tetapi jika diberikan terlalu sering kepada balita, bisa menimbulkan gangguan pencernaan dan risiko kekurangan gizi.
Orang tua perlu bijak dalam menyusun menu harian anak, dengan mengutamakan makanan yang mudah dicerna, kaya nutrisi, dan sesuai dengan tahap tumbuh kembang. Ketan sebaiknya hanya dijadikan selingan, bukan makanan pokok. (nur)
Editor : Nurista Purnamasari