Radar Surabaya – Bagi banyak orang Indonesia, masa kecil identik dengan permainan sederhana di halaman rumah, salah satunya menyentuh tanaman putri malu. Begitu jari mengenai daunnya, seketika daun hijau kecil itu melipat rapat seolah menolak. Fenomena unik inilah yang membuat Mimosa pudica bukan sekadar gulma, melainkan bagian dari pengalaman budaya sehari-hari.
Secara ilmiah, putri malu bernama Mimosa pudica. Tanaman ini berasal dari Amerika Latin sebelum menyebar ke wilayah tropis dan semi-tropis, termasuk Indonesia. Di nusantara, ia dikenal dengan berbagai sebutan lokal, bahkan dikaitkan dengan kisah rakyat tentang “Putri Kaniawati” yang pemalu. Popularitasnya begitu besar hingga tanaman liar ini dianggap bagian dari keseharian masyarakat.
Meski kerap disebut gulma, putri malu memiliki daya adaptasi tinggi. Ia mampu tumbuh di lahan miskin nutrisi dan bertahan pada kondisi kering. Namun, sifat invasifnya bisa mengganggu kesuburan tanah jika tak terkendali. Menariknya, akar tanaman ini yang bersimbiosis dengan bakteri rhizobium justru membantu fiksasi nitrogen, sehingga berperan memperbaiki kualitas tanah.
Fenomena unik pada putri malu disebut tigmonasti atau thigmonasty. Gerakan ini dipicu oleh rangsangan mekanis, mulai dari sentuhan, angin, getaran tanah, tetesan air, hingga perubahan cahaya. Rangsangan tersebut menghasilkan sinyal listrik yang memicu perpindahan ion kalsium dan perubahan tekanan turgor di sel. Bagian pangkal daun, atau pulvinus, mengendur sehingga daun menutup hanya dalam waktu 0,1–2 detik.
Daun yang terlipat tidak permanen. Setelah rangsangan berhenti, air kembali mengisi sel, tekanan turgor pulih, dan daun perlahan terbuka dalam 10–20 menit. Fenomena cepat ini menjadikan putri malu salah satu objek penting dalam penelitian fisiologi tumbuhan.
Profesor Masatsugu Toyota dari Universitas Saitama, Jepang, meneliti peran sinyal listrik dan kalsium pada pergerakan daun putri malu. Melalui teknik CRISPR-Cas9, timnya berhasil menciptakan jenis mutan bernama Immotile yang tidak bisa melipat daun. Penelitian lain oleh Monica Gagliano menunjukkan bahwa putri malu memiliki kemampuan belajar dan mengingat, sebuah temuan yang menantang pandangan lama mengenai kecerdasan tumbuhan.
Gerakan melipat daun bukan hanya atraksi biologis, melainkan strategi bertahan hidup. Saat merasa terancam, putri malu mengecilkan tampilan daunnya dan memperlihatkan duri batang, membuat predator enggan mendekat. Mekanisme ini menjadi salah satu faktor keberhasilan adaptasinya di berbagai ekosistem.
Selain menarik perhatian ilmuwan, putri malu juga digunakan dalam pengobatan tradisional di berbagai negara, termasuk Indonesia. Tanaman ini dimanfaatkan untuk terapi herbal dengan potensi antibakteri, antiracun, hingga antikonvulsan. Meski efektivitasnya masih membutuhkan penelitian lanjutan, khasiat tersebut menambah nilai penting putri malu bagi masyarakat.
Putri malu mampu menghasilkan hingga 700 biji setiap tahun meski berumur pendek. Kemampuan adaptasinya membuat tanaman ini mudah ditemui, mulai dari halaman rumah, tepi jalan, hingga perkebunan.
Meski kerap dianggap remeh sebagai gulma, putri malu menyimpan mekanisme biologis kompleks, kisah budaya, hingga manfaat medis. Gerakan melipat daunnya mengingatkan bahwa tumbuhan pun memiliki strategi unik untuk bertahan dan berinteraksi dengan lingkungannya. (ris/fir)
Editor : M Firman Syah