Radar Surabaya – Pendakian gunung bukan hanya soal stamina dan semangat. Di balik keindahan panorama alam, terdapat risiko medis serius yang dapat mengancam keselamatan pendaki. Salah satunya adalah penyakit ketinggian, kondisi senyap yang bisa berujung fatal jika diabaikan.
Saat Tubuh Kehilangan Oksigen
Penyakit ketinggian terjadi ketika tubuh gagal beradaptasi dengan berkurangnya kadar oksigen di dataran tinggi. Gejalanya beragam, mulai dari ringan hingga mengancam jiwa.
Acute Mountain Sickness (AMS)
Gejala umum berupa sakit kepala, mual, muntah, sesak napas, sulit tidur, hingga kelelahan. Meski sering dianggap sepele, AMS bisa berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.
High-Altitude Cerebral Edema (HACE)
Pembengkakan otak akibat ketinggian ekstrem. Tanda-tandanya mencakup kesulitan berjalan, kebingungan, dan perubahan perilaku. Tanpa penanganan cepat, HACE berpotensi mematikan.
High-Altitude Pulmonary Edema (HAPE)
Penumpukan cairan di paru-paru dengan gejala sesak napas parah, batuk berdahak putih atau merah, detak jantung cepat, hingga bibir membiru. HAPE merupakan kondisi darurat medis.
Risiko medis lain di gunung
selain penyakit ketinggian, pendaki juga berisiko mengalami berbagai hal.
Resiko ini seperti hipotermia, penurunan suhu tubuh akibat paparan dingin ekstrem, cedera fisik karena medan terjal bisa memicu keseleo, cedera otot, atau patah tulang dan gangguan pencernaan karena perubahan pola makan dan tekanan udara dapat menimbulkan mual atau muntah.
Untuk menjaga keamanan pendakian, langkah pencegahan yang disarankan, seperti lakukan aklimatisasi bertahap agar tubuh beradaptasi dengan ketinggian. Selain itu, konsumsi cairan dan karbohidrat cukup untuk energi dan hidrasi, hindari alkohol, rokok, dan obat tidur karena memperburuk gejala, segera turun jika muncul gejala penyakit ketinggian dan beristirahat di ketinggian tertentu agar tubuh menyesuaikan diri.
Keselamatan Adalah Prioritas
Gunung menawarkan keindahan luar biasa, namun euforia tidak boleh menutupi risiko medis yang nyata. Mengenali gejala, menyiapkan fisik, serta mengutamakan keselamatan dapat menjadi penentu antara hidup dan mati di ketinggian. (man/fir)