SURABAYA – Dunia fashion bersiap memasuki babak baru pada 2026. Gaya berpakaian tak lagi sekadar urusan tampilan luar, tapi juga cerminan nilai, identitas, dan tanggung jawab sosial.
Kearifan Lokal Naik Kelas
Narasi lokal diprediksi tampil lebih menonjol. Keterampilan artisan, motif tradisional, hingga kolaborasi lintas komunitas bakal jadi kekuatan utama. Fashion bukan lagi milik segelintir elit, melainkan hasil dialog antara budaya, teknologi, dan empati.
Rambut dan Visual
Bukan hanya busana, tren rambut pun ikut bergerak. Potongan Lindy Layer dan Kelly Bob diprediksi mendominasi karena fleksibel untuk berbagai bentuk wajah, termasuk karakter wanita Indonesia. Dari sisi pewarnaan, teknik Airluxe Balayage hingga Ghosted Hair memberi nuansa elegan-futuristik dengan sentuhan “old money” yang berkelas.
Dari segi visual, pendekatan sinematik dengan pencahayaan alami bakal lebih banyak digunakan. Estetika tak lagi soal kesempurnaan teknis, melainkan kejujuran, kedekatan emosional, dan narasi yang intim.
Mode Regeneratif
Salah satu sorotan besar datang dari konsep mode regeneratif. Jika sebelumnya isu berkelanjutan jadi sorotan, kini fashion benar-benar didorong untuk memulihkan ekosistem. Desainer mulai mengintegrasikan bahan daur ulang, pewarna alami, hingga sistem produksi berbasis komunitas. Konsumen pun makin sadar, pilihan gaya mereka berdampak nyata pada lingkungan dan sosial.
Warna Cerah dan Estetika Bebas
Dari segi estetika, 2026 akan jadi era bangkitnya warna-warna cerah seperti marigold yellow, electric blue, hingga bubblegum pink. Siluet asimetris, layering tekstur, hingga potongan mengalir memberi ruang lebih bebas dan inklusif bagi ekspresi diri.
Fashion tak lagi sekadar tren musiman. Ia menjelma jadi medium komunikasi lintas waktu yang menyatukan masa lalu, masa kini, dan masa depan. (nad/fir)
Editor : M Firman Syah