Radar Surabaya - Fenomena bed rotting alias rebahan berjam-jam di kasur kini jadi tren di kalangan Gen Z. Istilah ini merujuk pada kebiasaan menghabiskan waktu sepanjang hari di tempat tidur, baik untuk menenangkan diri, kabur sejenak dari aktivitas padat, maupun sekadar mencari kenyamanan.
Di media sosial, khususnya TikTok, tagar #bedrotting sudah ditonton lebih dari 500 juta kali. Ini menandakan bahwa banyak anak muda mengidentifikasi dirinya dengan kebiasaan tersebut. Bagi sebagian orang, rebahan panjang dianggap cara praktis untuk recharge energi.
Psikolog Courtney DeAngelis dari Columbia University Irving Medical Center menyebut bed rotting bisa membantu tubuh pulih dari kelelahan mental maupun fisik.
"Rebahan dapat menjadi bentuk self-care, terutama ketika seseorang merasa burnout," jelasnya (Healthline, 2023).
Namun, sisi lain diungkapkan Amy Morin, psikoterapis sekaligus penulis buku 13 Things Mentally Strong People Don’t Do. Dalam tulisannya di Psychology Today, ia memperingatkan bahwa rebahan terlalu lama justru bisa menciptakan lingkaran stres baru.
“Ketika kasur dijadikan tempat untuk bekerja, makan, atau menonton, fungsi tidur bisa terganggu. Alhasil, kualitas istirahat malah menurun,” tegasnya.
Menurut studi yang diterbitkan dalam Journal of Behavioral Medicine (2020), kebiasaan mengurangi aktivitas fisik dan berdiam lama di tempat tidur bisa meningkatkan risiko depresi, gangguan tidur, bahkan menurunkan fungsi kognitif. Hal ini sejalan dengan penelitian Harvard Medical School yang menegaskan bahwa sleep hygiene atau kebersihan tidur sangat penting: kasur sebaiknya hanya digunakan untuk tidur dan aktivitas intim, bukan aktivitas lain.
Selain itu, bed rotting berpotensi meningkatkan screen time. Data dari American Psychological Association (APA) menyebutkan rata-rata Gen Z menghabiskan 6–9 jam per hari dengan gawai. Jika waktu itu banyak dihabiskan di kasur, risiko doomscrolling dan gangguan kesehatan mental makin tinggi.
Fenomena ini bisa dibaca sebagai bentuk eskapisme anak muda dari tekanan hidup modern: target akademik, tekanan pekerjaan, biaya hidup, hingga social comparison di media sosial. Rebahan jadi "zona aman" sementara. Namun, ketika kebiasaan ini bergeser dari coping mechanism sesekali menjadi gaya hidup, dampaknya bisa kontraproduktif.
Ahli kesehatan mental Dr. Jean Twenge, penulis buku iGen, menilai fenomena seperti bed rotting tak bisa dilepaskan dari pola hidup generasi digital.
“Gen Z tumbuh dengan tekanan akademik dan sosial yang berbeda dibanding generasi sebelumnya. Mereka cenderung mencari cara instan untuk menenangkan diri, termasuk dengan rebahan lama atau digital retreat,” paparnya (The Atlantic, 2023).
Pakar psikologi dari Mayo Clinic menyarankan agar bed rotting tak dijadikan kebiasaan rutin. Sebagai gantinya, anak muda bisa mencoba tips berikut ini :
1. Aktivitas mindful seperti meditasi, journaling, atau berjalan singkat.
2. Tidur berkualitas dengan rutinitas teratur, bukan rebahan seharian.
3. Rehat digital dengan membatasi screen time di tempat tidur.
4. Olahraga ringan untuk menjaga mood dan kesehatan mental.
Dengan begitu, rebahan tetap bisa menjadi me-time tanpa berbalik jadi sumber masalah. (bil/fir)
Editor : M Firman Syah