Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Koreografer Sri Mulyani Kuliah S-3 di Dua Universitas Sekaligus, Tetap Dampingi Penari Muda dan Anak Disabilitas

Lambertus Hurek • Minggu, 14 September 2025 | 12:38 WIB
Sri Mulyani, S.Sn., M.Sos., koreografer dan seniman tari dari Surabaya
Sri Mulyani, S.Sn., M.Sos., koreografer dan seniman tari dari Surabaya

RADAR SURABAYA - Di tengah kesibukannya sebagai dosen di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya, Sri Mulyani SSn MSos tak berhenti berkarya. Dia melatih penari muda di Sanggar Mulyo Joyo Enterprise sekaligus mendampingi anak-anak disabilitas. Tak banyak yang tahu, Sri juga tengah menempuh dua program doktoral (S-3) sekaligus.

Berikut petikan wawancara Radar Surabaya dengan Sri Mulyani:

Bagaimana perkembangan kuliah S-3 Anda di Universitas Negeri Semarang (Unnes)?

Masih semester 3. Saat ini saya sedang proses bimbingan dengan Prof Dr Hartono MPd sebagai promotor dan Prof Dr Malarsih MSn sebagai co-promotor di S-3 Pendidikan Seni Unnes.

Kalau kuliah S-3 di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta bagaimana?

Saya baru semester 1 di S-3 Seni Penciptaan (Tari) ISI Surakarta.

Mengapa Anda mengambil S-3 bersamaan di dua kampus?

Saya memiliki ketertarikan yang kuat dalam bidang pendidikan seni dan seni penciptaan, khususnya tari. Mengambil S-3 bersamaan di Unnes dan ISI Surakarta memungkinkan saya memperluas pengetahuan sekaligus keterampilan di dua bidang itu, sehingga lebih kompeten dalam mengajar maupun menciptakan karya.

Manajemen waktunya bagaimana antara kuliah di Semarang dan Solo, sementara Anda juga punya banyak job di Jawa Timur?

Saya berusaha menata manajemen waktu sebaik mungkin dan memprioritaskan tugas dengan efektif. Saya punya tim yang solid di sanggar serta dukungan keluarga dan teman, sehingga bisa membagi tanggung jawab dengan lebih efisien.

Apakah ada syarat dari kampus STKW, dosen harus S-3?

STKW adalah perguruan tinggi seni, maka salah satu syaratnya menjadi Dosen memang harus memiliki keilmuan kedoktoran seni.

Apakah pengalaman Anda sebagai praktisi tari membantu dalam kuliah doktoral?

Pengalaman saya sebagai praktisi tari dan koreografer sangat membantu. Saya bisa menghubungkan teori dengan praktik, sehingga lebih mudah memahami materi kuliah. Pemahaman teoretis jadi terasa lebih dekat karena saya sudah mengalaminya di lapangan.

Apakah penelitian Anda masih terkait dengan pengalaman puluhan tahun di seni pertunjukan, khususnya tari?

Penelitian saya di S-3 memang tidak jauh dari pengalaman yang saya tekuni. Pengalaman itu menjadi sumber inspirasi dan referensi, sehingga penelitian lebih autentik dan relevan dengan seni tari.

Kemampuan analisis: Sebagai praktisi tari, saya terbiasa menganalisis karya seni dan proses kreatif. Itu membantu saya dalam menganalisis data dan menarik kesimpulan dalam penelitian.

Jaringan dan sumber daya: Saya punya jaringan luas di dunia tari, sehingga mudah mendapat informasi dan dukungan untuk penelitian.

Dengan pengalaman sebagai praktisi sekaligus koreografer, saya berharap bisa menghasilkan penelitian yang relevan, autentik, dan bermanfaat bagi dunia seni tari.

Apa harapan Anda dengan menempuh kuliah S-3 di dua kota yang jauh dari Surabaya ini?

Saya ingin meningkatkan pengetahuan dan keterampilan di bidang pendidikan seni dan seni penciptaan. Harapannya bisa lebih berkontribusi bagi pengembangan seni dan pendidikan di Indonesia. Saya juga ingin memberi contoh bagi generasi muda tentang pentingnya pendidikan dan dedikasi untuk meraih tujuan. (rek)

Editor : Lambertus Hurek
#sri mulyani koreografer #Sanggar Tari Mulyo Joyo Enterprise #sri mulyani kuliah S3 tari #Mulyo Joyo Enterprise #Institut Seni Indonesia (ISI) #Universitas Negeri Semarang (UNNES)