Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Luka Batin Akibat Peran Ayah Tidak Hadir? Ini Kata Psikolog Soal Dampak Daddy Issue

Muhammad Firman Syah • Senin, 8 September 2025 | 23:24 WIB
Figur ayah berperan penting dalam pembentukan kesehatan emosional anak sejak dini. Ketidakhadiran bisa tinggalkan luka psikologis mendalam.
Figur ayah berperan penting dalam pembentukan kesehatan emosional anak sejak dini. Ketidakhadiran bisa tinggalkan luka psikologis mendalam.

Radar Surabaya – Ketidakhadiran figur ayah secara emosional dalam masa tumbuh kembang anak dapat meninggalkan luka psikologis mendalam yang terbawa hingga usia dewasa. Fenomena ini dikenal sebagai daddy issue dan dinilai oleh psikolog sebagai persoalan serius yang kerap kali disalahartikan oleh masyarakat.

Psikolog Keluarga, Sukmadiarti Perangin-angin, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa daddy issue bukan sekadar istilah populer di media sosial, tetapi merupakan masalah psikologis yang melibatkan dinamika hubungan antara ayah dan anak sejak masa kanak-kanak.

“Daddy issue itu lebih ke masalah psikologis anak yang terjadi antara ayah dan anak selama masa tumbuh kembangnya,” ujar Sukmadiarti, Senin (08/09).

Menurutnya, pengalaman anak terhadap sosok ayah sangat bervariasi, bahkan dalam satu keluarga yang sama. Kondisi ini tidak selalu terjadi karena ketidakhadiran fisik, tetapi juga bisa disebabkan oleh absennya keterlibatan emosional dari sang ayah.

“Daddy issue memang lebih karena ketidakhadirannya ayah, secara psikologis atau emosional. Bisa jadi masih tinggal serumah dengan ayah, tapi ayahnya tidak berperan sebagaimana mestinya,” jelasnya.

Dampak dari ketidakhadiran tersebut, lanjut Sukmadiarti, sering kali baru disadari ketika anak beranjak dewasa. Luka batin yang terbentuk biasanya muncul dalam bentuk kesulitan sosial, kecemasan, dan rendahnya harga diri.

“Tanda seseorang punya daddy issue ini harga diri atau penilaian anak terhadap dirinya sendiri rendah. Alhasil sulit berinteraksi dengan banyak orang karena merasa insecure,” terangnya.

Ia menambahkan bahwa efek psikologis ini turut memengaruhi pola hubungan anak dalam lingkungan sosialnya. Bahkan, dalam menjalin pertemanan pun, anak bisa menunjukkan respons yang ekstrem.

“Terkadang sulit mendapatkan teman, tapi sekalinya punya teman jadi terlalu mengikat dan takut kehilangan,” tambahnya.

Dalam konteks hubungan yang lebih intim, luka masa kecil tersebut juga berpotensi menimbulkan relasi yang tidak sehat. Rasa takut kehilangan figur ayah bisa bertransformasi menjadi sikap posesif atau kontrol berlebihan terhadap pasangan.

“Perasaan ketakutan dan kehilangan sosok ayah ini juga memengaruhi pola relasi anak, yang bisa saja menjadi toksik, seperti posesif dan terlalu mengekang pasangannya,” tuturnya.

Sukmadiarti menegaskan bahwa kehadiran ayah tidak hanya terbatas pada peran ekonomi semata. Aspek emosional dan kognitif anak sangat dipengaruhi oleh kualitas hubungan dengan figur ayah selama masa perkembangan.

“Kehadiran peran ayah itu sangat penting untuk emosional dan kognitif anak sehingga anak tidak terus merasa cemas atau takut menjalin relasi ke depannya,” tegasnya.

Ia menyampaikan bahwa perhatian sederhana, seperti keterlibatan dalam momen-momen penting anak dan penghargaan kecil, dapat menjadi faktor penting dalam membentuk kesehatan mental anak.

“Apabila ayah menghargai serta hadir di momen penting anak, hal ini akan membuat anak bahagia dan tangki cintanya akan terpenuhi oleh ayahnya sendiri, tanpa perlu mencari validasi dari orang lain,” pungkasnya. (ray/mel/fir)

Editor : M Firman Syah
#figur ayah #Emosional #luka psikologis #Tumbuh KEmbang Anak #Daddy issue