Radar Surabaya – Boneka Upset Duck, yang menampilkan karakter bebek dengan ekspresi murung, tengah viral di kalangan anak muda, khususnya Gen Z. Fenomena ini tidak sekadar menjadi tren visual, tetapi dianggap sebagai bentuk representasi kehidupan emosional yang dialami Gen Z dalam keseharian mereka.
Banyak di antara mereka merasa related dengan ekspresi boneka tersebut, yang mencerminkan perasaan lelah, stres, dan keresahan akibat tekanan sosial dan kehidupan modern. Tak sedikit yang menjadikannya sebagai medium pelampiasan emosional atau sekadar teman simbolik dalam menghadapi realitas.
Dosen Psikologi Universitas Airlangga, Valina Khiarin Nisa, S.Psi., M.Sc., menilai bahwa ketertarikan Gen Z terhadap boneka ini mencerminkan kesesuaian suasana hati dan kondisi psikologis tertentu yang mereka alami dalam beberapa waktu terakhir.
“Gen Z menyukai boneka Upset Duck tersebut sesuai mood mereka di beberapa pekan terakhir, merasa kecewa, lelah, dan bisa karena menjadi tren serta sebagian Gen Z membeli boneka Upset Duck itu dianggap fomo dan tidak ingin ketinggalan budaya baru,” ujarnya.
Namun demikian, Valina menegaskan bahwa boneka Upset Duck tidak bisa dijadikan indikator tunggal dalam membaca kondisi kesehatan mental Gen Z secara umum. Ia mengingatkan bahwa tidak semua anak muda terlibat dalam fenomena ini, dan penilaian atas kondisi emosional harus dilihat dari berbagai aspek.
“Fenomena ini juga bisa terjadi oleh beberapa tekanan sosial, ekonomi dan lainnya sehingga boneka Upset Duck tersebut dianggap sebagai representasi kehidupan Gen Z,” imbuhnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa mengoleksi boneka ini bisa menjadi salah satu bentuk mekanisme coping yang dipelajari sejak dini, yakni mencari kenyamanan melalui benda yang tidak menghakimi atau menuntut respons emosional.
Meski begitu, Valina juga memberi catatan penting bahwa ketergantungan pada boneka semacam ini bisa berdampak negatif jika dijadikan pelarian semata tanpa solusi nyata atas masalah yang dihadapi. Ia mengingatkan pentingnya mencari bantuan profesional saat dibutuhkan.
“Fenomena ini menjadi dampak negatif karena sebagai bentuk pelarian dari masalah dan juga menganggap bahwa Gen Z tidak perlu pergi ke psikolog, padahal kenyataannya harus dicari solusi yang sesuai,” tuturnya.
Ia juga menyarankan agar orang tua mampu membangun komunikasi dua arah yang sehat dengan anak, membuka ruang untuk validasi perasaan, dan menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan mental secara menyeluruh.
Sementara itu, salah satu Gen Z, Ervina Yulia Damayanti, 22, mengaku boneka Upset Duck memiliki daya tarik karena bentuknya yang lucu sekaligus merepresentasikan suasana hati.
“Boneka Upset Duck juga mencerminkan perasaan seperti wanita yang sedang dikecewakan, perasaan kesal dan malas yang menjalani kehidupan dengan berbagai tekanan,” ujarnya.
Ervina juga menambahkan bahwa ia bahkan memberikan aksesori kacamata pada boneka tersebut agar tampil lebih menarik dan lebih dekat dengan kehidupan nyata yang ia alami.
Fenomena Upset Duck yang terus berkembang ini kini tidak hanya menjadi produk budaya populer, tetapi juga mencerminkan dinamika emosional dan tekanan sosial yang dihadapi generasi muda. Meski demikian, para ahli tetap mengimbau agar ekspresi diri ini diimbangi dengan kesadaran menjaga kesehatan mental secara proporsional. (acl/mel/fir)
Editor : M Firman Syah