Radar Surabaya - Beberapa tahun terakhir fenomena job hungging bagi Gen Z semakin ramai diperbincangkan untuk mengamankan karir untuk mendapatkan pekerjaan yang jabatannya lebih tinggi, gaji tinggi dan juga tempat nyaman.
Namun, kebiasaan ini membuat Gen Z tetap mempertahankan karier yang pertama tetapi, masih mencari pekerjaan lainnya untuk menambah penghasilan dan juga pengalaman dari beberapa tempat lainnya.
Ketika banyak Gen Z yang mengalami job hungging di dunia karier tetapi, tidak sedikit Gen Z juga berusaha untuk tidak resign dari tempat yang sama dengan jangka yang lebih lama dari sebelumnya.
Fenomena ini juga membuat Gen Z berpikir kritis untuk tidak terlalu selektif dalam memilih pekerjaan serta untuk menghadapi tantangan dari ketidakpastian dunia kerja dan kondisi ekonomi yang tidak stabil.
Selain itu, faktor utama yang mendorong job hugging antara lain ketidakpastian pasar kerja, pengaruh AI, dan eliminasi pekerjaan massal dan juga perubahan investasi dalam perusahaan.
Menurut, Dosen Sosiologi Universitas Airlangga, Prof. Sutinah, mengatakan bahwa fenomena ini memberikan peluang bagi Gen Z untuk mengasah keterampilan. Hal ini Gen Z memegang lebih dari satu pekerjaan dan mereka memiliki manfaat bisa memperluas jejaring, menambah portofolio, sekaligus meningkatkan daya saing di dunia kerja.
“Tren ini menunjukkan kalau Gen Z tidak hanya mencari uang tetapi, juga menambah pengalaman agar lebih siap bersaing di dunia kerja yang semakin besar resiko untuk kedepannya," ujarnya.
Fenomena job hugging menjadi salah satu bentuk strategi yang dipilih Gen Z dalam menghadapi ketidakpastian dunia kerja dan ekonomi. Namun, tren ini menunjukkan semangat generasi muda untuk terus berkembang dan beradaptasi serta Gen Z agar lebih siap dihadapkan pada tantangan untuk menjaga keseimbangan antara karier, kesehatan mental, dan kehidupan pribadi agar tidak terbebani dengan banyaknya tanggung jawab. (acl/mel/fir)
Editor : M Firman Syah