Radar Surabaya – Fenomena self reward kian marak di kalangan generasi Z sebagai bentuk apresiasi diri di tengah padatnya aktivitas kuliah, pekerjaan, hingga rutinitas harian. Konsep ini dilakukan dengan memberikan hadiah kecil kepada diri sendiri sebagai upaya menjaga keseimbangan emosional dan mental.
Bentuk self reward yang dipilih pun beragam, mulai dari membeli segelas matcha latte favorit, cake vegan, layanan manikur, hingga membeli aksesori seperti gantungan kunci Labubu yang sempat viral di media sosial setelah digunakan oleh Lisa BLACKPINK.
Selain itu, perilaku ini juga tercermin dalam peningkatan aktivitas belanja produk fesyen, skincare, serta kebiasaan nongkrong di kafe hingga melakukan short escape untuk mengatasi tekanan dari lingkungan sekitar.
Fenomena ini dinilai tidak hanya sebagai bentuk pencarian kebahagiaan, tetapi juga sebagai dorongan motivasional dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Psikiater anak dan remaja, dr. Astik Joshi, menyebut bahwa self reward memiliki manfaat positif dari sisi psikologis.
“Fenomena ini adalah bentuk pengakuan diri yang membantu orang merasa didukung secara emosional, bahkan lewat hal-hal kecil,” ujarnya.
Namun demikian, psikolog dari Universitas Airlangga, Dina Kartika, memberikan catatan agar praktik self reward tetap dikendalikan agar tidak berubah menjadi perilaku konsumtif.
“Kalau dilakukan secara berlebihan, justru bisa menimbulkan masalah baru, seperti boros atau kecanduan belanja sehingga tidak bisa mengatur keuangan dengan tepat. Kuncinya untuk menghadapi fenomena ini ada pada pengendalian diri,” ucapnya.
Fenomena self reward menunjukkan bahwa bagi Gen Z, kebahagiaan tidak selalu berasal dari pencapaian besar, melainkan dari hal-hal kecil yang memberikan rasa dihargai dan menumbuhkan rasa syukur dalam menjalani hidup. (acl/mel/fir)
Editor : M Firman Syah