Radar Surabaya – Kebiasaan mengonsumsi nasi dan mie secara bersamaan ternyata menyimpan risiko kesehatan jangka panjang. Hal ini disampaikan oleh Dosen Program Studi Manajemen Industri Jasa Makanan dan Gizi, Universitas IPB, Rosyda Dianah, yang menyoroti pola makan tersebut sebagai praktik yang tidak sehat dan berpotensi menyebabkan ketidakseimbangan gizi.
Menurut Rosyda, nasi dan mie merupakan dua sumber karbohidrat yang jika dikonsumsi bersamaan tanpa diimbangi dengan asupan gizi lain, dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
“Perpaduan makanan ini memiliki risiko yang menimbulkan ketidakseimbangan gizi dan berbagai gangguan kesehatan jika tidak diberikan gizi lain untuk keseimbangan yang lebih baik, sehat, dan stabil,” ujarnya.
Ia menambahkan, konsumsi dua jenis karbohidrat tersebut dalam satu waktu dapat menyebabkan asupan karbohidrat mencapai hingga 80 persen dari total energi harian, sementara asupan protein dan lemak justru menjadi sangat rendah. Kondisi ini, apabila terus terjadi dalam jangka panjang, berpotensi memicu obesitas, resistensi insulin, dislipidemia, hingga inflamasi kronis.
“Kelebihan karbohidrat sederhana dari nasi putih dan mie instan meningkatkan indeks glikemik dan mempercepat lonjakan gula darah yang tinggi,” tambahnya.
Sebagai upaya pencegahan, Rosyda menyarankan pola makan yang lebih seimbang. Ia merekomendasikan porsi nasi yang dikurangi, dipadukan dengan lauk hewani dan nabati, serta menambahkan sayur-sayuran dan sumber protein seperti telur atau kacang-kacangan. Hal ini penting untuk menjaga komposisi gizi seimbang sesuai prinsip empat sehat lima sempurna. (acl/mel/fir)
Editor : M Firman Syah