Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Fenomena Quarter-Life Crisis Meningkat di Kalangan Gen Z

Muhammad Firman Syah • Kamis, 14 Agustus 2025 | 22:24 WIB
Sebagian besar Gen Z merasa terjebak dalam situasi yang stagnan.
Sebagian besar Gen Z merasa terjebak dalam situasi yang stagnan.

Radar Surabaya – Generasi Z yang kini berada pada usia 20-an menghadapi fenomena psikologis yang mengkhawatirkan. Usia yang seharusnya menjadi masa penuh semangat, eksplorasi, dan optimisme justru banyak diwarnai dengan kecemasan, kebingungan, serta rasa kehilangan arah dalam menentukan masa depan.

Beragam tekanan yang datang dari lingkungan sosial, tuntutan ekonomi, serta ketatnya persaingan kerja membuat sebagian besar Gen Z merasa terjebak dalam situasi yang stagnan. Mereka mempertanyakan arah hidup, tujuan karier, hingga arti dari pencapaian yang ingin diraih. Kondisi ini oleh para ahli dikenal sebagai quarter-life crisis (QLC), yaitu fase ketika individu mulai meragukan tujuan hidup, jalur karier, dan eksistensinya, yang umumnya terjadi pada rentang usia 20 hingga 30 tahun.

Tidak sedikit di antara Gen Z yang merasa tidak cukup meskipun telah berusaha keras, mengalami kegagalan, merasa tertinggal dibanding teman sebaya, hingga muncul ketakutan berlebihan terhadap masa depan. Mereka juga merasa tekanan besar akibat ketidakmampuan melakukan personal branding, pencapaian yang belum tampak di media sosial, serta kurangnya rasa percaya diri terhadap potensi diri sendiri.

Fenomena ini diperparah oleh paparan media sosial yang tinggi. Mereka cenderung membandingkan diri dengan pencapaian orang lain yang dilihat di berbagai platform digital.

"Mereka sering membandingkan diri sendiri dengan pencapaian orang lain yang mereka lihat terutama di Instagram, TikTok, LinkedIn dan aplikasi lainnya," ujar salah satu praktisi psikologi.

Apabila tidak ditangani dengan pendekatan yang tepat, fenomena ini dapat memicu kondisi serius seperti burnout, kehilangan motivasi, dan gangguan kesehatan mental jangka panjang. Oleh sebab itu, penting bagi Gen Z untuk menerapkan manajemen emosi, mengembangkan self-compassion, serta membangun sistem dukungan (support system) di lingkungan sekitar yang saling peduli dan mendorong pertumbuhan positif.

Psikolog Klinis Surabaya, dr. Ratih Andini, M.Psi., menyampaikan bahwa fenomena ini merupakan bagian dari gejala quarter-life crisis yang banyak dialami anak muda masa kini.

"Pada usia 20-an, anak muda sedang mencari jati diri dengan mencoba segala hal atau menentukan beberapa tujuan untuk mencari kebenaran dari diri sendiri. Namun tekanan dari dunia kerja dan pembandingan di media sosial membuat kecemasan meningkat,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya memahami bahwa setiap orang memiliki proses dan perjalanan hidup yang berbeda-beda.

“Prosesnya bertahap sesuai usaha. Jangan memaksakan diri untuk langsung sukses, karena perjalanan setiap orang berbeda-beda dengan tujuan yang berbeda,” tambahnya.

Seiring dengan perubahan sosial, ekonomi, dan dunia kerja yang kian cepat, tantangan quarter-life crisis diprediksi akan menjadi isu signifikan yang perlu diperhatikan dalam perkembangan psikologis Gen Z ke depan. (acl/mel/fir)

Editor : M Firman Syah
#self compassion #Quarter Life Crisis #psikologis #Gen Z #Kegagalan #ketakutan