RADAR SURABAYA - Sebanyak 15 perupa yang tergabung dalam komunitas Surabaya Artpro atau Seniman Profesional Surabaya menggeliatkan seni rupa di Kota Pahlawan melalui pameran lukisan bertajuk Dejavu.
Pameran yang menampilkan 15 karya dengan genre dan aliran lukisan yang berbeda-beda tersebut, digelar mulai 3 hingga 7 Agustus di Galeri Merah Putih, Kompleks Alun-Alun Kota Surabaya.
Ketua Surabaya Artpro, Muit Arsa mengungkapkan, Dejavu menjadi medium visualisasi perjalanan spiritual dan lintasan waktu para seniman dalam bingkai kanvas.
Menurutnya, fenomena dejavu yakni pengalaman merasakan peristiwa yang seolah pernah terjadi sebelumnya bukan semata kebetulan, tetapi menyimpan makna batin yang menarik untuk digali.
“Pengalaman dejavu ini dieksplorasi oleh para perupa menjadi karya yang tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga mengajak penikmat seni untuk merenung lebih dalam,” ujarnya saat ditemui di lokasi pameran, Senin (4/8).
Pameran yang diadakan terbuka untuk umum ini, selain menjadi ajang apresiasi karya juga ditujukan untuk terus menggerakkan roda kesenian, khususnya seni rupa di Surabaya dan Jawa Timur.
Karya Muit Arsa sendiri pun laku dalam pameran tersebut. Lukisannya yang berjudul Surabaya Sunset, dibeli oleh seorang kolektor asal Surabaya.
"Lukisannya berukuran 80 x 140 cm bermedia akrilik di atas kanvas. Menggambarkan perjuangan nelayan dalam perjalanan pulang selepas melaut. Juga obyek bangunan masjid sebagai perlambang spirit kerohanian, dan bentangan jembatan Suramadu yang kokoh berdiri sebagai latar belakang panorama senja," jelas Muit.
Sementara itu, salah satu peserta pameran, Weldo Wnophringgo, turut memamerkan karya bertajuk Protect Your Mind.
Lukisan yang dikerjakannya selama tujuh hari dengan media cat minyak itu menampilkan beberapa karakter dalam satu bingkai.
Yakni memasukkan karakter, salah satunya hewan yang memakai alat pelindung seperti helm dan pakaian khusus.
“Karya ini bercerita tentang agama sebagai pelindung bagi para pemeluknya, seperti helm yang melindungi kepala. Namun, perlindungan itu kadang juga membatasi. Menurut saya, bukan agamanya yang membatasi, tetapi pola pikir kita terhadap agama itu sendiri,” jelasnya.
Dengan visual yang sarat makna dan gagasan filosofis yang mendalam, pameran Dejavu menjadi suguhan menarik bagi masyarakat Surabaya maupun kolektor seni. (sam/opi)
Editor : Nofilawati Anisa