RADAR SURABAYA - Di tengah gempuran budaya global, Cak Kartolo dan Ning Tini, pasangan seniman legenda hidup ludruk Surabaya, tetap teguh mempertahankan kesenian tradisional Jawa Timur ini. Lebih dari sekadar menghibur, bagi mereka, ludruk adalah warisan budaya yang perlu dilestarikan.
Cak Kartolo memulai debutnya di panggung ludruk sejak tahun 1968. "Dulu, penonton ludruk luar biasa banyaknya," kenang Cak Kartolo, Selasa (29/7/2025).
Bermain ludruk dulu dari kampung ke kampung, di gedung-gedung pertunjukan. Penonton bahkan rela membayar tiket, bahkan kalau pertunjukan siang hari juga ramai. "Semangatnya memang beda dulu," tuturnya.
Pria kelahiran Prigen, Pasuruan, 2 Juli 1947, itu menceritakan pengalaman pertamanya di panggung sebagai Joko Berek, di mana spontanitasnya dalam melontarkan banyolan berhasil memikat penonton. Namun, Cak Kartolo menyadari perbedaan signifikan antara masa lalu dan sekarang.
"Dulu ada gedung-gedung pertunjukan ludruk, tempat kami berkreasi dan berlatih. Gedung itu kampusnya ludruk. Sekarang, tempatnya sudah tidak ada. Jadi, sekarang kami hanya tampil jika ada panggilan saja," tuturnya.
Proses kreatif dalam menciptakan materi ludruk juga mengalami perubahan. "Dulu, kami berlatih dan berdiskusi setiap hari di gedung pertunjukan. Sekarang, kami harus lebih kreatif dalam mencari bahan, menyesuaikan dengan perkembangan zaman," jelas Cak Kartolo.
Cak Kartolo mengaku banyak membaca, mengikuti perkembangan informasi terkini, baik berita dalam maupun luar negeri, untuk mendapatkan ide. "Yang penting, kita hindari hal-hal negatif dan kritikan yang terlalu tajam," imbuhnya.
Sementara itu, Ning Tini, istri Cak Kartolo, memulai perjalanan karirnya di dunia ludruk pada tahun 1980-an. Ia telah berduet dengan Cak Kartolo sejak tahun 1970-an, dan menikah dengannya pada tahun 1974. Di atas panggung, mereka selalu menjadi lawan main (tektok), saling beradu akting dan banyolan.
Baca Juga: Pemblokiran Rekening Simpanan Anak dan Bansos Dinilai Tidak Tepat Sasaran
"Dulu, lawan main Cak Kartolo adalah almarhum Cak Safari. Sekarang, saya yang menggantikannya," ujar Ning Tini. Keduanya selalu mencari bahan baru, menyesuaikan dengan situasi dan kondisi.
"Materinya sekarang lebih luas, tapi kidungan dan remo tetap harus dipertahankan," jelas perempuan yang lahir di Simo Pomahan, Surabaya, 5 Oktober 1955, itu.
Selain masih mempertahankan ludruk keduanya juga bermain di layar lebar. Beberapa film lebar dibintanginya. Sejumlah film telah dibintangi keduanya seperti Tjokroaminoto, Terbang Menembus Langit, Yowis Ben 1,2 dan 3, hingga Lara Ati yang terkenal sebagai Pak Bandi.
"Ludruk ke film agak sulit, tapi kita harus beradaptasi. Main film lebih enak karena ada skrip, tapi kita juga bisa mengembangkannya sendiri. Beda dengan ludruk yang lebih spontan," tutur perempuan yang mempunyai nama asli Kastini ini.
Baca Juga: Perkuat Fundamental Bisnis Melalui Transformasi, BRI Cetak Laba Rp 26,53 Triliun
Baik Cak Kartolo maupun Ning Tini berharap agar ludruk tetap lestari. Mereka menekankan kesederhanaan dan fleksibilitas ludruk sebagai kekuatannya. "Anak-anak muda, ayo lestarikan ludruk! Ceritanya bisa bebas tapi jangan tinggalkan kidung dan remonya. Cerita dulu bisa, cerita sekarang juga bisa jadi materi. Yang penting, kita kreatif," ajak Cak Kartolo.
Mereka berdua juga berharap pemerintah memberikan dukungan dan fasilitas yang memadai bagi seniman ludruk agar kesenian ini tetap hidup dan berkembang. (*)
Editor : Lambertus Hurek