Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Lelah dengan Work-Life Balance? Tren Work-Rest Rhythm Dinilai Lebih Efektif Jaga Produktivitas

Muhammad Firman Syah • Jumat, 25 Juli 2025 | 19:46 WIB
Konsep work-life balance selama ini dianggap sebagai solusi ideal dalam dunia kerja modern. Namun seiring waktu, banyak kalangan menilai pendekatan ini sulit dipraktikkan.
Konsep work-life balance selama ini dianggap sebagai solusi ideal dalam dunia kerja modern. Namun seiring waktu, banyak kalangan menilai pendekatan ini sulit dipraktikkan.

Radar Surabaya - Konsep work-life balance selama ini dianggap sebagai solusi ideal dalam dunia kerja modern. Namun seiring waktu, banyak kalangan menilai pendekatan ini sulit dipraktikkan dan justru menambah tekanan psikologis. Sebagai alternatif, kini muncul tren baru, work-rest rhythm.

Mengutip laporan The Straits Times, work-rest rhythm adalah pola kerja yang menyesuaikan dengan ritme biologis tubuh. Alih-alih membagi waktu secara kaku antara kerja dan kehidupan pribadi, metode ini mengajak individu untuk memberi jeda istirahat di sela aktivitas secara berkala, mengikuti siklus alami seperti ritme ultradian (90-120 menit) dan sirkadian (24 jam).

Studi menunjukkan bahwa setelah 90 menit bekerja dengan konsentrasi penuh, otak membutuhkan waktu istirahat selama 15 - 30 menit. Memaksakan kerja tanpa jeda justru dapat menurunkan performa, meningkatkan stres, dan memicu kelelahan kronis (burnout).

Manfaat penerapan work-rest rhythm antara lain meningkatkan fokus dan konsentrasi, mengurangi stres dan kelelahan mental, memperbaiki kualitas hasil kerja, menjaga kesehatan fisik dan emosional dan menghindari multitasking yang kontraproduktif.

Berbeda dengan work-life balance yang memisahkan waktu kerja dan pribadi secara tegas, work-rest rhythm bersifat lebih fleksibel dan adaptif. Prinsipnya mendekati mindful working, yakni bekerja secara sadar sesuai kapasitas tubuh.

Sebagai contoh, bekerja di malam hari diperbolehkan selama tubuh masih bertenaga. Begitu pula istirahat siang 30 menit dianggap bagian dari strategi pemulihan energi, bukan bentuk kemalasan.

Bagi yang tertarik menerapkan pola ini, langkah awal adalah pahami ritme produktivitas pribadi (tipe pagi atau malam), gunakan aplikasi pengatur waktu seperti Pomofocus atau Toggl, isi waktu jeda dengan aktivitas ringan seperti berjalan atau peregangan, hindari multitasking, fokus pada satu tugas dalam satu waktu dan lakukan evaluasi rutin terhadap pola kerja dan istirahat.

Meski belum sepopuler work-life balance, pendekatan work-rest rhythm dinilai lebih sesuai dengan kebutuhan kerja jangka panjang yang sehat dan berkelanjutan. Dengan menyesuaikan ritme kerja dengan kondisi biologis tubuh, produktivitas tetap terjaga tanpa mengorbankan kesehatan fisik maupun mental. (wid/ris/fir)

Editor : M Firman Syah
#Balance #Gaya Hidup #life #psikologis #efektif #work #produktivitas