Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Puasa Weton, Tradisi Spiritual Jawa sebagai Wujud Syukur dan Laku Spiritual

Muhammad Firman Syah • Selasa, 22 Juli 2025 | 16:37 WIB
Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Jawa tetap melestarikan berbagai tradisi spiritual yang sarat makna.
Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Jawa tetap melestarikan berbagai tradisi spiritual yang sarat makna.

Radar Surabaya - Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Jawa tetap melestarikan berbagai tradisi spiritual yang sarat makna. Salah satunya adalah puasa weton, yakni praktik berpuasa yang dijalankan setiap 35 hari sekali, bertepatan dengan hari kelahiran seseorang menurut penanggalan Jawa seperti Senin Kliwon, Jumat Wage, dan sejenisnya.

Puasa weton tidak hanya dimaknai sebagai bentuk menahan lapar dan haus, tetapi juga sebagai laku spiritual untuk mempererat hubungan dengan Sang Pencipta, mengungkapkan rasa syukur, serta memohon perlindungan dan keberkahan hidup. Bagi sebagian orang Jawa, hari kelahiran diyakini memiliki muatan energi spiritual yang layak disucikan.

Sebelum berpuasa, pelaku biasanya menjalani mandi besar sebagai simbol penyucian diri, lalu melafalkan niat puasa. Salah satu bentuk niat yang umum diucapkan berbunyi,

"Niat saya puasa hari weton saya selama tiga hari, kakang kawah adi ari-ariku, patuh dan tunduklah kepadaku."

Puasa berlangsung dari fajar hingga magrib sebagaimana puasa umumnya. Namun, beberapa pelaku menambahkan laku spiritual lain seperti shalat hajat, meditasi, mengirim doa kepada leluhur, dan memanjatkan harapan pribadi kepada Tuhan.

Lebih dari sekadar menahan makan dan minum, puasa weton juga menuntut disiplin moral melalui sejumlah pantangan, di antaranya tidak merokok, tidak berbohong, tidak melakukan hubungan intim, tidak mengonsumsi daging maupun alkohol dan tidak melakukan perbuatan tercela.

Pantangan tersebut mencerminkan nilai pengendalian diri secara total, baik fisik maupun batiniah.

Meski tidak tercantum dalam ajaran Islam secara eksplisit dan tidak bersifat wajib, puasa weton tetap dipandang sebagai praktik yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai keislaman, selama dijalankan dengan niat tulus dan tidak mengarah pada kemusyrikan. Banyak masyarakat Jawa menghayatinya sebagai bentuk introspeksi diri, perenungan spiritual, sekaligus pelestarian warisan budaya leluhur yang kaya akan nilai kehidupan.

Tradisi ini dapat terus dilestarikan, sepanjang dijalankan dengan kesadaran spiritual yang sehat serta selaras dengan keyakinan agama masing-masing.
(wfq/ris/fir)

Editor : M Firman Syah
#jawa #spiritual #puasa #Sang Pencipta #tradisi #hubungan #weton